Aku ingin hidup

tumblr_lnz1jfyuLX1qee12to1_1280

Aku lelah.. atau lebih tepatnya, aku merasa sangat lelah. Lelah berada di sini. Aku tidah tahun sampai kapan bisa bertahan dalam kondisi seperti ini.

Kulihat cerminan diriku di air. Aku masih merasa sangat sehat. Tubuhku masih tegap, kulitku masih coklat sempurna, kaki-kaki ku masih kuat menopang tubuhku.  Aku masih bisa memberikan maanfaat untuk orang lain dengan kondisi ku yang sekarang.. tapi, sampai kapan kah?

BELUM!! Aku belum ingin mati. Aku masih ingin hidup ratusan ribu tahun lagi. Aku masih ingin memberikan manfaat bagi sekitarku… Tidak terasa air mata menetes.. Ini tidak adil.. Mengapa aku?

Hi Moku.. kamu kenapa menangis? Sebuah suara mengagetkanku. Kulihat Kinoko sahabat karibku tersenyum kepada ku. Aah, tubuh kinoko sangat mungil. Dia sering sekali bersembunyi di sela-sela kakiku.

Kinoko, aku merasa takut. Takut aku akan mati di sini. Aku belum mau mati Kinoko..

Aku mengerti kegelisahanmu Moku. Kalau kau mati, aku pun akan ikut mati Moku. Kenapa mereka begitu jahat pada kita? Padahal dirimu dan diriku sudah sangat membantu mereka. Mengapa mereka tidak menyadari fungsi dari hadinya kita di sini?

Itu lah Kinoko.. aku tidak mengerti mengapa mereka senang sekali merusah rumah kita. Mengambil teman-teman kita, tanpa memberikan teman-teman yang baru. Akibat perbuatan mereka, rumah kita menjadi tidak nyaman. Banyak teman-teman kita yang sakit, bahkan mati. Aku selalu bertanya kenapa Kinoko….

Kami berdua terdiam. Terbisu. Meratapi nasib kami tanpa tahu apa yang harus kami lakukan.

Hei kalian berdua.. Mengapa kalian bermuram durja seperti itu? Hari ini sangat cerah, seharusnya kalian bersiul-siul gembira seperti aku…. 

Aah Tori!! Kau mengagetkanku saja. Kami iri pada mu, mengapa kau bisa selalu gembira seperti itu?

Karena aku selalu berlari ke sana kemari. Menyongsong matahari. Menikmati hari yang cerah dan bersiul-siul gembira.

Hmm.. seandainya kami bisa seperti mu Tori..

Hei teman.. ada apa? Moku? Kinoko? Ada apa sih? Kenapa kalian bermuram durja seperti itu?

Tori akhirnya menyadari kegalauan kami. Kami pun menceritakan kepadanya tentang kisah kami, ketakutan kami.

Jadi.. begitulah Tori. Entah bagaimana kami dapat menyadarkan mereka untuk berhenti merusak rumah kami sebelum kami yang mati.

Tori terdiam. Nampaknya dia berpikir keras untuk ikut membantu memecahkan masalah kami.

Kalau memang rumah kalian tidak bisa diselamatkan, mengapa bukan kalian yang pindah?

Aku dan Kinoko bengong memandang Tori. Nampaknya dia sudah kehilangan akal sehatnya ketika memikirkan masalah kami.  Aah, dia memang sahabat yang baik.

Tori, please deh. Kamu tahu sendiri hal itu tidak mungkin. Bagaimana mungkin aku berpindah rumah? Kau melihat sendiri tubuhku yang seperti ini..

Moku, tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini. Nothing is impossible asal kita mau berusaha. Dengarkan dulu rencana ku…

Tori kemudian menceritakan rencananya. Antara kagum, ingin percaya tapi takut jika gagal, kami mendengarkan rencananya. Agak ragu, kami pun menyetujui rencananya.

Ok kalau begitu, aku akan berdiskusi dengan teman-teman yang lain. Kalau jadi, minggu depan kita berangkat ya.. Nanti kalian kukabari lagi.  Selama itu, SMILE TEMAAN KU.. KEEP SMILEEEE… Tori pergi sambil bersiul-siul gembira.

Aku dan Kinoko hanya berpandang-pandangan. Sangat berharap rencana Tori dapat berhasil. Sangat berharap teman-temannya bersedia membantu.

Rasanya waktu berjalan sangat lambat. Kami berharap-harap cemas menantikan kabar dari Tori.

Sehari, dua hari, tiga hari, empat hari, lima hari… Aah, kami mulai berputus asa. Nampaknya rencana ini tidak dapat dijalankan… Kami mulai berusaha memupuskan asa akan rencana itu. Kami takut untuk kecewa.

Hi para Gloomy face.. ayo ceria lah. Bukankah aku menyuruh kalian selalu tersenyum.

Suara Tori yang ceria tiba-tiba saja terdengar. Tidak lama dia muncul sambil bersiul-siul seperti biasa.

Toriiiiiiiiiiiiiii… teriakku dan Kinoko bersamaan.
Bagaimana? Bagaimana? Mengapa kau lama sekali? Hampir saja kami putus asa, mengira bahwa rencana itu tidak akan terlaksana.

Ciih.. kalian ini benar-benar tidak sabaran. Rencana ini kan tidak mudah. Aku perlu meyakinkan teman-temanku bahwa rencana ini akan berhasil. Selain itu, aku juga harus mencarikan rumah baru untukmu Moku. Memangnya kalian pikir itu gampang? Tori bersungut-sungut.

Hehehehe… iya… maafkan kami ya… Aku merayunya.
Tapi.. hasilnya bagaimana?

Aku akhirnya menemukan rumah baru untuk mu Moku. Di sebuah bukit, tidah jauh dari sini. Di dekatnya ada rumah yang ditinggali sebuah keluarga. Aku yakin keluarga tersebut akan menyambutmu dengan senang hati.

Aku pun berhasil meyakinkan teman-temanku bahwa rencana ini dapat terlaksana. Jika tidak ada aral melintang, besok kita akan jalankan rencana ini..

Besok ??? Besok katamu Tori???  Yokattaaa… senangnya…Rasanya aku ingin menari-nari gembira, walau ku tahu itu tidak mungkin.

Iya besok. Tapi, kami minta tolong pada mu Moku. Nanti malam lemaskan kaki-kaki mu agar mudah bagi kami membawamu. Sementara kamu Kinoko, carilah tempat yang aman di kaki Moku, sehingga kau tidak akan terjatuh.

SIAAAP!!! LAKSANAKAN!!!!  Kami berteriak bersamaan sambil tersenyum gembira.

Aah.. senang sekali melihat kalian tersenyum. Tapi… tidak perlu berteriak!! Aku tidak budeg tau!! Seru Tori. Iya, maap… hehehe

Baiklah, aku pergi dulu. Aku perlu beristirahat untuk rencana besok.

Baik, hati-hati ya Tori. Terima kasih banyak atas usahamu.

Hei.. take it easy. That’s what friends are for… Tori pergi sambil bersiul-bersiul.

»»««

Keesokan harinya, aku dan Kinoko bangun sangat pagi. Aku melihat sekitar ku. Rumahku.. rumah yang kutempati selama ini. Sebetulnya aku enggan meninggalkannya, tapi aku pun tidak ingin mati di sini. Aku berharap suatu saat para manusia itu sadar untuk tidak merusak rumahku.

Sesuai waktu yang disepakati, Tori datang bersama teman-temannya.

Halo halo… sudah siapkah kalian untuk bepergian pertama kalinya? Sudah mengucapkan goodbye pada rumah kalian? Kalian tidak berubah pikiran kan?

Sudah Tori.. sedih sebetulnya meninggalkan rumah ini. Tapi, ini keputusan yang harus kami ambil… Kami tetap sesuai rencana…

Baiklah kalo begitu.. Ayo kita mulai bekerja kawan-kawan… Seru Tori pada kawan-kawannya.

Mereka bekerja dengan giat. Mengikatkan tali-tali pada tangan-tanganku. Aku pun berusaha melepaskan kaki-kaki ku, agar mudah mereka menarikku. Aku lihat, Kinoko pun bersiap-siap di tempat yang aman untuknya.

Setelah berapa lama, semua persiapan telah selesai dilakukan. Hatiku berdetak kencang. Aku sudah tidak sabar untuk mengalami perjalanan pertama ku.

Ok. Nampaknya semua sudah siap. Kawan-kawan, kita istirahat sejenak. Setelah itu, kita mulai perjalanan memindahkan Moku dan Kinoko. Ujar Tori.

Setelah beristirahat, Tori dan kawan-kawannya bersiap di posisi mereka. Mereka mulai menarik tali yang terikat di tangan dan badanku. Kurasakan tali-tali tersebut menegang, berusaha menarikku. Aku berdoa semoga tali-tali tersebut tidak putus.

Usaha pertama belum berhasil. Nampaknya kaki ku masih ingin menjejak rumah ini. Kami terus berusaha hingga akhirnya aku merasakan kaki ku terangkat dari rumah ini. Aku merasakan semakin jauh dari rumah ini.

Akhirnyaaaaa…!!!  aku terbaaaaang…. !!!!

Kurasakan angin terasa begitu segar, matahari sangat cerah.  Begini ternyata rasanya terbang. Kulihat rumahku untuk terakhir kalinya

Selamat tinggal rumah ku..Semoga manusia-manusia itu tidak merusakmu terlalu jauh. Semoga mereka segera menyadari bahwa keberadaan rumah ku sangat penting bagi mereka. Semoga mereka menyadarinya sebelum semua terlambat. 

 

Ide cerita dari sini

Please feel free to give comment ^__^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s