Habibie Ainun, sebuah cerita tentang cinta

135236201127516_300x430

Akhirnya, tercapai juga keinginan menonton film Habibie Ainun ini. Sudah hampir sebulan lebih tayang di bioskop tapi baru berkesempatan menonton kemarin, untung aja masih ada. 😀

Film ini menceritakan kisah mantan presiden Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie dengan Hasri Ainun Habibie.  Film yang diadaptasi dari buku Habibie & Ainun yang ditulis oleh Pak Habibie ini membawa penonton pada perjuangan Pak Habibie dan Ibu Ainun, tentang cinta mereka, tentang cinta sejati yang dipersatukan oleh Tuhan. Akan tetapi bagi saya, film ini tidak hanya terbatas pada cinta kedua manusia tersebut saja, tapi juga mengisahkan cinta pada negeri, cinta pada ibu pertiwi, cerita tentang keyakinan seorang anak bangsa bahwa bangsa Indonesia sebetulnya memiliki potensi yang besar untuk berdiri di kaki sendiri, tapi seringkali hal tersebut tidak dipercaya oleh bangsa Indonesia sendiri.

Saya tidak terlalu mengerti istilah per-film-an, tetapi saya terpukau ketika film ini bisa membawa cerita sejak tahun 1950 hingga tahun 2010. Aspek-aspek detail seperti sarana transportasi, pakaian, perkakas-perkakas sepeli seperti alat makan dan suasana lingkuangan disesuaikan dengan tahun yang menjadi latar belakang cerita.

Saya pun terpukau dengan akting Reza Rahardian yang di film ini memerankan sebagai Pak Habibie. Melihat dia, secara otomatis mengingatkan saya pada Pak Habibie sendiri. Cara beliau berjalan, gesture tubuhnya bahkan sampai ekspresi muka dan mulutnya pun dapat diperankan dengan baik oleh Reza. It seems like looking Mr. Habibie but with different face.  Salut untuk Reza…🙂

Soundtrack-nya juga menambah nilai positif film ini. Lagu Cinta Sejati yang dinyanyikan oleh Bunga Citra Lestari sungguh bisa menyatu dengan film ini.

Sejak dahulu, saya selalu kagum dengan Pak Habibie. Seorang jenius di bidangnya, yang bahkan mendapatkan apresiasi luar biasa di Jerman, bertekad untuk membangun industri pesawat terbang di Indonesia. Keberhasilan IPTN pada masanya untuk membuat pesawat N235 ikut ditampilkan di film ini.  Cerita tentang penerbangan perdana pesawat N235 memang diambil dari dokumentasi yang coba disatukan dengan latar belakang film, tapi bagi saya, momen penerbangan itu tetap menimbulkan rasa bangga sebagai bangsa Indonesia, sama ketika saya melihat acara penerbangan perdana tersebut melalui TV beberapa tahun yang lalu. Indonesia bisa membikin pesawat terbang sendiri yang dikerjakan oleh anak bangsa. Bukankah hal tersebut sangat membanggakan?

Pendamping hidup dan keluarga adalah sumber kekuatan yang terus menerus, dan itu lah arti Ibu Ainun bagi Pak Habibie. Ibu Ainun yang di film ini diperankan oleh Bunga Citra Lestari, menjadi istri dan sahabat bagi Pak Habibie di saat suka maupun duka. Menjadi istri yang selalu mendukung suaminya. Menjadi istri yang mengerti bahwa tugas suaminya adalah tugas bagi negara, tugas yang berat, dan sangat rawan untuk tergelincir, sehingga mengingatkan sang suami untuk berhati-hati. Menjadi istri yang selalu memperhatikan suaminya bahkan di saat dia sendiri sedang bertaruh nyawa.  Di balik lelaki hebat, selalu ada wanita yang hebat, dan ini terjadi pada Pak Habibie & Ibu Ainun.

Saya menyukai film ini hampir keseluruhan. Jika range 1 – 5 dan 5 adalah nilai terbaik, maka saya memberi nilai 4. Hanya ada detail-detail kecil yang bagi saya dan teman saya cukup menggelitik, dikarenakan hadirnya produk sponsor.  Halooo… di tahun segitu emang sudah ada gitu produk-produk sponsor itu yak.  Jadinya, saya dan teman saya malah ketawa cekikikan setiap produk sponsor itu muncul dan berkata, “Emang udah ada produk yang itu tahun segitu?”😀

Film ini penuh inspirasi. Bagi saya film ini adalah sebuah cerita tentang cinta. Cinta pada pasangan hidup, cinta pada keluarga, juga cinta pada bangsa dan tanah air. Di film ini digambarkan betapa kecewa-nya Pak Habibie ketika IPTN harus berhenti beroperasi dan industri pembangunan pesawat harus dihentikan. Indonesia, bangsa yang besar, yang memiliki potensi untuk berkembang dan berdiri di kaki sendiri, seringkali tidak percaya diri dengan potensi yang dimiliki. Tersirat, itulah pesan yang (nampaknya) ingin disampaikan oleh Pak Habibie.

Film ini menambah daftar film-film Indonesia yang bermutu, yang memberikan inspirasi, tidak hanya tentang hal mistis atau seksualitas. Semoga para sineas Indonesia dapat terus menghasilkan film-film yang bermutu seperti ini. 🙂

Gambar diambil dari sini

Please feel free to give comment ^__^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s