Sebuah surat untuk kota Ngalam

Hi Ngalam,
Hari ini, aku ingin sedikit bercerita, tentang mu, tentang pertemuan kita.

Sebelumnya, aku tidak pernah tahu tentang-mu. Kota di Jawa Timur yang aku tahu hanya Surabaya, sehingga ketika orang tua ku memutuskan untuk pindah ke sini, aku hanya bisa bertanya : Ngalam, di mana itu?

Pindah ke suatu kota yang baru bukanlah hal yang mudah, apalagi dengan latar belakang dan bahasa yang berbeda dengan tempat tinggal sebelumnya. Dan itu yang kurasakan pada-mu. Bahasa Jawa, bahasa yang digunakan di sini adalah bahasa yang aku tidak pernah mendengar apalagi menggunakannya sebelum aku datang ke sini. Adanya pelajaran bahasa daerah di sekolah rasanya semakin menambah deretan kesulitan yang harus kuhadapi dalam beradaptasi.  Sekarang, aku bisa dengan tersenyum berkata : aku wis iso rek boso Jowo. Bahkan aku sedikit-sedikit sudah bisa bahasa khas-mu, boso walikan seperti kadit itreng, ongis nade, kera ngalam, oskab. Gak penting banget ya.. hehehe.

Tak kenal maka tak sayang, rasanya pepatah itu benar adanya. Semakin aku tinggal bersamamu, semakin aku jatuh suka. Berbagai macam episode  hidupku kualami paling banyak bersamamu. Masa-masa SMU yang seru, masa-masa kuliah yang tidak terlupakan. Episode jatuh bangun ketika orang tuaku meninggal dan episode aku belajar untuk mejadi tangguh, kuat dan mandiri pun kualami bersamamu.  Pertemuan-pertemuan dengan orang baru yang nantinya menuliskan kisah sebagai teman, sahabat dan (insya Allah) pasangan juga kualami bersamamu.. Untuk yang terakhir itu ngarep.com #eehh…😀

Bakso bakar, itu jawaban yang pasti kuberikan jika ada yang bertanya apa kuliner favoritku denganmu. Ngalam, kamu memang terkenal dengan bakso-nya, selain apel, jadi tidak heran jika (hampir) semua bakso yang ada di kamu enak.  Akan tetapi, favoritku tetap bakso bakar. Ada sensasi berbeda ketika aku memakannya.. tapi terkadang antara doyan dengan nggragas beda dikit yak…

Aku saat ini memang tidak selalu dengamu. Saat ini memang kurasakan menuju-mu itu jalan yang penuh perjuangan. Saat ini kurasakan kamu tidak sedingin dan selancar dulu. Kamu memang berubah.. tapi percaya lah aku tetap menyukaimu.  Kamu selalu di hati ku.

– Salam satu jiwa dari-ku –

Keterangan :
Ngalam itu kebalikan dari Malang.
Boso walikan itu bahasa berkebalikan, bahasa khas-nya anak Malang.
Kera Ngalam kebalikan dari Arek Malang yang artinya Anak Malang.
Kadit itreng kebalikan dari tidak ngerti
Ongis nade kebalikan dari Singo edan, adalah simbol dari klub sepakbola kota Malang, Arema.
Oskab itu bakso.

2 thoughts on “Sebuah surat untuk kota Ngalam

Please feel free to give comment ^__^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s