Drama di Stasiun Kereta Api

Entah kenapa, saya itu paling malas kalau bepergian jarak dekat dengan menggunakan kereta api. Mungkin karena lama buanget karena sering berhenti-berhenti di setiap stasiun, sama umpel-umpelan eh berdesak-desakan maksudnya. Kalau naik bis, sepenuh-penuhnya, terkadang pada poin tertentu saya masih bisa dapat tempat duduk, tapi kalau naik kereta api, sekali berdiri kayaknya bakal berdiri terus sampai tujuan. Belum lagi pedagang asongan yang seliwar-seliwer. Bukannya saya tidak suka dengan mereka, bagi saya itu ok saja. Hanya saja itu kan kereta sudah penuh, ditambah mereka seliwar-seliwer itu rasanya jadi tambah penuh gitu.

Akan tetapi, katanya sih itu semua lagu lama. Sekarang sudah ada reformasi sistem di PT. KAI di mana setiap penumpang harus memiliki karcis, yang artinya, kita bakalan bisa dapat tempat duduk di kereta. Nampaknya sistem tersebut cukup berjalan dengan baik, karena saya melihat, ketika harus berhenti gara-gara kereta api lewat, jarang ada yang berdiri, kalaupun ada hanya di dekat pinggir pintu. Saya jadi tertarik ingin mencoba naik kereta api lagi.

Kebetulan, Sabtu kemarin, saya dan teman saya berencana ke Surabaya. Lokasi yang ingin kami tuju ada di tengah kota Surabaya, yang lebih gampang dicapai dari Stasiun Gubeng daripada dari Terminal Bungurasih. Sesuai kesepakatan, kami berencana untuk naik kereta api saja hari Sabtu itu. Berdasarkan rumor, karcis kereta api ini cepat habisnya, jadi walaupun kami berniat naik kereta jam pukul 08.30, kami ke stasiun kereta api Bangil jam 05.30.  Pagi banget gak tuh..😀

Setibanya di stasiun, kami, atau lebih tepatnya, saya, cuma bisa melongo. Stasiun sudah penuh sesak. Antrian pembelian karcis sudah cukup panjang. Kami pun bergegas untuk masuk ke antrian. Dikarenakan tubuh saya cukup mungil #NarsisDikit, yang antri teman saya, sementara saya duduk dan melihat-lihat sekitar.

Saya melihat bahwa sistem pembelian karcis dan sistem masuk ke peron sangat ketat. Untuk membeli karcis, diharuskan menunjukkan KTP/kartu identitas atau fotokopian-nya. Hal ini sedikit membuat saya panik dikarenakan KTP saya masih dibawa adik untuk pengambilan e-KTP di Malang. Untung saja saya ada fotokopi-nya. #Fiuh.  Pada saat masuk ke peron juga diharuskan menunjukkan karcis dan KTP untuk membuktikan penumpang yang naik sesuai dengan nama yang tertera di karcis. Wah, hampir sama kayak mau masuk terminal keberangkatan di airport aja, pikir saya.

Drama pertama muncul ketika ada seorang bapak-bapak ribut banget di loket pembelian karcis, nampaknya ada yang salah dengan karcis yang dia beli. Hal itu cukup membuat antrian pembelian karcis terhenti dikarenakan bapak itu ngotot, dan petugas loket pun ngotot. Setelah sekian lama, orang-orang di antrian pun protes dikarenakan mereka mengejar karcis kereta untuk pemberangkatan jam 06.00. Akhirnya oleh petugas loket, bapak tersebut diminta untuk komplain di stasiun tujuan saja.  Dan akhirnya, Bapak itu pun melipir pergi dari antrian.

Mendekati jam 06.00, mendadak orang-orang pada “beringas” di antrian. Nampaknya sekarang, jadwal kereta api tepat waktu sehingga orang-orang pun mulai panik ketika belum mendapatkan karcis.  Ketika kereta sudah dijadwalkan untuk berangkat, pintu ke peron pun mulai ditutup oleh petugas. Orang-orang yang baru mendapatkan karcis, menggedor-gedor pintu tersebut minta dibukakan. Oleh karena kereta masih belum berangkat, pintu pun masih dibukakan oleh petugas. Puncaknya adalah ada seorang wanita yang berlari kencang sejak pintu masuk masuk stasiun sampai dengan ke pintu peron. Saat itu, kereta sudah mulai beranjak pergi. Wanita itu menggedor-gedor minta dibukakan pintu, dan ketika pintu dibuka, dia melesat lari untuk mengejar kereta. Oleh petugas kereta, dia ditahan sampai ditarik-tarik. Nampaknya, wanita itu (nampaknya) merasa dia masih bisa mengejar kereta yang baru mulai beranjak pergi. Akan tetapi, petugas tidak mau mengambil resiko karena jika terjadi sesuatu pada wanita tersebut, pasti mereka yang akan disalahkan. Saya dan teman saya hanya bisa bengong melihat adegan tarik-menarik antara wanita tersebut dan para petugas, seperti melihat adegan di sinetron.😀 Adegan tersebut akhirnya dimenangkan oleh petugas peron dan wanita tersebut pun keluar dari peron dan dari stasiun sambil bersungut-sungut. Mungkin dia membatin : udah berangkat pagi-pagi, udah susah-susah nyari karcis, eh masih ketinggalan kereta.  (mungkin lho ya…😀 ).

Belum selesai bengong saya melihat adegan itu, teman saya dengan panik berteriak “Mbak May, dompetku gak ono.” Deg, rasanya jantung saya ikut berhenti melihat dia panik. Memang dari tadi banyak orang yang menerobos barisan antrian dikarenakan cepat-cepat ke pintu peron. Saya berpikir apa saat itu ada yang mencuri kesempatan dengan mengambil dompet teman saya. Saya pun ingat bahwa dia suka meletakkan dompetnya di sepeda motor, maka seketika saya lari menuju sepeda motor yang terparkir di luar. Saya merogoh ke tempat biasanya dia meletakkan dompet, dan.. dompetnya juga tidak ada. Ketika melihat saya menggeleng, teman saya bertambah panik. Dia baru menerima gaji dan sebagian serta seluruh akses untuk mengambil gajian ada di dompet tersebut. Di tengah-tengah kepanikan, dia melihat ke dalam helm yang dia bawa sambil digantungkan di lengannya. Kemudian dia berteriak lagi “Oh Mbak May, aku naro di sini ternyata”  DANK!!! Perasaan campur baur antara lega dan panik yang belum kunjung reda.  Serentak kami pun ketawa, yang nampaknya satu-satunya ekspresi yang bisa kami keluarkan di tengah perasaan lega dan panik.

Dan, puncak drama di stasiun kereta api Bangil hari itu adalah ketika teman saya akhirnya berada di depan petugas loket, dan petugas loket mengatakan bahwa karcis menuju Surabaya jam 08.30 sudah habis terjual.  Oalah…. nasib, nasib.  😦

Dengan kejadian ini, berarti sudah dua kali saya kehabisan karcis. Yang pertama ketika saya ke Malang dan tiba di stasiun kereta api Kota Baru jam 08.30 untuk membeli karcis ke arah Bangil jam 15.30 dan saya kehabisan.

Habisnya karcis kereta api ini nampaknya masalah lain yang harus diselesaikan oleh pihak PT. KAI. Kereta api ekonomi masih merupakan sarana transportasi yang murah dan terjangkau terutama untuk masyarakat menengah ke bawah. Ketika mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa karcis kereta api habis, padahal jam keberangkatan masih sangat lama, maka mereka harus menggunakan sarana transportasi lain yang cenderung lebih mahal.

Jadi, kira-kira kapan saya bisa naik kereta api jarak dekat ya…..

20 thoughts on “Drama di Stasiun Kereta Api

    1. oh, di Sumatra juga ada kereta yak? kan konturnya kayaknya berbukit-bukit gitu. eh ini beneran nanya, soalnya ku kira gak ada kereta…

      kalo di jawa, jarak dekat ada mas. tapi saya malah juarang banget… kayaknya sekarang lebih gampang nyari tiket jarak jauh mis ke jakarta daripada jarak dekat.. -__-

      1. Iya ada🙂 Jurusan Palembang-Lampung (dan turun di stasiun-stasiun kecil disepanjang perjalanan).

        Ya betul, di Sumatera setahuku baru Palembang-Lampung yang ada. Dulu sempat ada kerabat dari Padang yang ke Palembang mau minta diajakin ke stasiun. Mau lihat kereta katanya, hahaha.

      2. oh, pengetahuan baru nih. aku beneran ngira di Sumatra itu gk ada kereta…😀

        ajak aja kerabatnya ke jawa, mau jenis kereta gimana juga ada kok…🙂

  1. Hehe. Dulu aku seringnya Malang – Blitar mbak.. Setengah jam sebelum keretanya jalan sih biasanya masih ada. kadang juga aku berdiri sampe mau deket blitar. Sebel. >_<

    1. dulu aku juga pernah malang – blitar, soalnya takut mabuk kalo lewat bus.. Dulu masih gampang nyari tiket, tapi ya resiko-nya penuh dan lama puol. aku lho sampe kenal ama pedagang asongannya… hahahaha

  2. wah, wah, seru juga ceritanya. sy termasuk orang yg jarang sekali menggunakan kendaraan umum, apalagi kereta. krn sering kegiatan dalam kota aja jadi cuma pake motor, jarang sekali keluar kota. jadi kepengin kapan2 mbolang pake kendaraan umum. hehehe

    salam blogger

      1. kayaknya gitu ya. selama ini pengalaman sy sm angkutan umum cm terbatas sama angkot dalam kota dan sedikit bus antarkota antarprovinsi kalo mudik. hehe

        btw, setelah baca section komennya, sy juga baru tau kl ternyata ada jalur kereta di Sumatera. sy kira adanya cuma di Jawa.

      2. waah, ternyata saya tidak sendirian yg menyangka di sumatra gak ada kereta.. hehehe….

        saya mah kebanyakan kemana-mana naik angkutan umum.. maklum gak bisa mengendarai kendaraan.. cuma sepeda gowes doank yang bisa hahahaha

Please feel free to give comment ^__^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s