Murah kok Minta Cepat

Setelah beberapa kali gagal mendapatkan tiket kereta api jarak dekat, baik ke Malang maupun Surabaya, termasuk mengalami drama beberapa waktu lalu, akhirnya Jum’at kemarin saya berhasil juga naik kereta api jurusan Surabaya #Yaay. Eh tapi donk, itu juga gara-gara pesan tiketnya seminggu sebelumnya😀

Tiket
Bangil – Surabaya – Bangil (Total Rp 8.000)

Dulu, waktu belum ada perubahan sistem pertiketan seperti sekarang ini, bentuk tiket seperti ini hanya untuk kereta api jarak jauh. Untuk kereta api jarak dekat, bentuk karcisnya hanya persegi panjang berukuran 4 x 2 cm mungkin ya.. Sekarang ini, semua tiket kereta, baik jarak jauh maupun jarak dekat, nampaknya menggunakan bentuk tiket yang sama.

Saya dan teman saya tiba di stasiun pukul 08.25 WIB dan dari jauh kami melihat bahwa kereta api Penataran jurusan Surabaya sudah mulai memasuki jalur dua. Kami pun bergegas karena tidak lucu saja kalau sudah bisa dapat tiket ternyata malah ketinggalan kereta. Melihat kami bergegas, petugasnya ada yang berkata “Tenang saja Mbak.. keretanya berangkat 15 menit lagi kok.”  Mendengar hal tersebut, kami pun berjalan normal kembali, melalui pemeriksaan di pintu peron, dan berhasil masuk ke peron stasiun Bangil dan naik ke atas kereta api tentunya  :D  Tidak lama kemudian, kereta pun berangkat… Jezz. jezz tuit tuit…..

Perjalanan ke Surabaya cukup lancar. Pemberhentian di setiap stasiun, menurut saya, dalam waktu normal. Kami pun tiba dengan selamat di Stasiun Wonokromo Surabaya dan langsung disambut udara panas Surabaya…😀

DSC_0302 copy

Sorenya, setelah menyelesaikan seluruh keperluan kami di Surabaya, kami pun kembali ke stasiun. Ngapain saja kami di Surabaya? Emm, tidak usah diceritain ya.. Malu…. (Woi.. siapa yang nanya woi…. :D)

Kami tiba di Stasiun Wonokromo pukul 15.30 WIB sementara jadwal kereta adalah jam 16.10 WIB. Pikir kami, tidak apa-apa lah, nunggu di stasiun setengah jam. Sambil menunggu, saya memperhatikan kereta-kereta yang mampir di Stasiun Wonokromo.  Rata-rata kereta yang lewat (nampaknya) penuh. Mungkin dikarenakan saat itu adalah awal dari long weekend.

Satu per satu kereta telah lewat. Penataran jurusan Surabaya (dari Malang), Doho jurusan Blitar, Logawa, komuter, dan sebagainya, tetapi kereta kami, Penataran arah Malang dengan tujuan akhir Blitar tidak kunjung datang.  Wah, telat ini keretanya… Pikir saya.

Kami pun menunggu.. seperempat jam.. setengah jam.. empat puluh lima menit.. kereta belum datang juga. Kombinasi antara suhu panas Surabaya dengan badan yang lelah membuat kami merasa jengkel dengan keterlambatan ini.  Berbagai pose duduk, berbagai kegiatan mulai dari membaca buku (sampai bukunya habis terbaca), memainkan gadget sampai gadget-nya harus diisi ulang baterainya, moto-moto ngobrol ngalor ngidul, sampai ngedumel bareng. Pokoknya komplit..plit.. plit… kegiatan yang kami lakukan untuk menunggu kedatangan kereta kami.

Sekitar pukul 17.00an, kereta kami belum tiba juga. Hal ini berarti kereta sudah terlambat 50 menit. Sebetulnya masih terhitung sebentar sih jika melihat rekor saya pernah mengalami keterlambatan kedatangan kereta sampai 2 jam..😦

Masih capek menunggu, tiba-tiba lewatlah sebuah kereta, yang melaju dengan cepatnya, tidak berhenti, apalagi toleh kiri kanan. Gemuruh suaranya membahana dan si doi lewat begitu saja hanya meninggalkan debu yang beterbangan di sekitar peron.  Kemudian setelah itu, terdengar pengumuman bahwa kereta api Penataran arah Malang dengan tujuan akhir Blitar akan tiba melalui jalur 2.  Ealaaah… jadi ya.. kereta kami itu, dikarenakan ekonomi, harus menunggu lewatnya kereta eksekutif Bima, yang melaju tanpa toleh-toleh tadi.  Kereta api Penataran arah Malang pun akhirnya memasuki stasiun Wonokromo pukul 17.15 WIB dan berangkat 10 menit kemudian.😦

Saya tahu memang bahwa sistem perkereta-apian memang seperti itu. Mendahulukan eksekutif, bisnis baru kemudian kelas ekonomi. Hal itu yang terkadang membuat saya tidak sabaran naik kereta. Kereta bisa saja berhenti di suatu stasiun, lama, tanpa kejelasan kapan berangkat, karena masih menunggu kereta api eksekutif yang didahulukan.

Murah kok minta cepat..  Itu guyonan saya dan teman saya. Akan tetapi jika melihat fenomena tersebut, nampaknya hal itu yang berlaku. Keterlambatan kereta api ekonomi nampaknya sudah menjadi hal yang lumrah dan biasa, dan nampaknya pun penumpang bisa menerima hal tersebut, walaupun mungkin terpaksa.  Itulah salah satu keunikan orang Indonesia, menurut saya. 🙂

Jadi… entah kita setuju dengan pakem “murah kok minta cepat” atau “ada harga ada kualitas”, hal tersebut sudah berlaku umum…  Apakah kita bisa merubah pakem itu menjadi “murah tetap berkualita”? Hal itu nampaknya menjadi pertanyaan besar bagi kita semua.

5 thoughts on “Murah kok Minta Cepat

    1. yup, itulah… bahkan sampai ke aspek-aspek pelayanan yang paling mendasar , misalnya kesehatan.. sedih kadang jadinya…

      eh btw, lek murah aku gak minta selamet.. aku minta wicak aja… #eehh 😀

    1. yup.. bener banget mas. kalau hanya seperempat sampai setengah jam masih ok lah.. tapi kalau sampai berjam-jam, kan jadinya gak efektif lagi. belum lagi kalau misalnya pas ada keperluan yang penting banget.. tambah ruwet..😦

Please feel free to give comment ^__^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s