Pulang

pulang

Awalnya, saya tertarik untuk membaca buku ini karena rekomendasi dari seorang teman. Membaca sinopsisnya cukup untuk membuat saya berketetapan hati membeli buku ini. Tidak ada ekspektasi apa pun, bahkan khawatir kalau buku ini cukup berat untuk dinikmati di saat santai. Akan tetapi, ternyata sebaliknya, saya bisa menikmati buku ini tanpa kesulitan. Kisah politik yang dipadu dengan cerita cinta, persahabatan, pengkhianatan dan kasih sayang keluarga, membuat novel ini memiliki alur yang tidak monoton.

Novel ini menggunakan Gerakan 30 September sebagai salah satu latar belakang ceritanya. Empat tokoh dalam novel ini yaitu Dimas Suryo, Nugroho, Tjai dan Risjaf, adalah eksil politik yang karena kejadian berdarah tersebut tidak dapat kembali ke tanah air karena mereka dianggap sebagai pendukung dan terlibat dalam kejadian tersebut. Peristiwa demonstrasi di Perancis pada Mei 1968 mempertemukan Dimas Suryo dengan Vivienne Deveraux. Mereka menikah dan dikaruniai seorang putri yang diberi nama Lintang Utara. Tugas akhir Lintang sebagai mahasiswi akhir di Universitas Sorbonne Paris, membawa dia harus terbang ke Jakarta, dan menjadi saksi kejadian-kejadian selama Mei 1998, sebut saja Trisakti, kerusuhan Mei 1998 dan lengsernya Presiden Soeharto setelah 32 tahun berkuasa.

Membaca novel ini membawa saya seolah-olah berada dan merasakan derita para tokoh. Penulis bercerita tidak hanya dari satu tokoh saja, tapi dari beberapa tokoh, sehingga pembaca bisa merasakan alur pemikiran sang tokoh. Novel ini menggambarkan tentang bagaimana hidup para eksil politik, bagaimana jeritan keluarga mereka yang bahkan setelah kejadian itu telah lama lewat masih mendapatkan cap sebagai anak dan keluarga eksil politik. Hal tersebut membatasi ruang gerak mereka, seolah-olah mereka adalah najis di tengah order baru. Masih segar dalam ingatan saya bagaimana setiap tahun ketika sekolah harus membuat resensi dari kisah G30S/PKI yang selalu diputar setiap tanggal 30 September. Sebuah doktrinasi kah? Saya tidak tahu dan tidak ingin membahasnya.

Novel ini pun mengangkat kejadian-kejadian selama Mei 1998. Betapa carut marutnya kondisi saat itu. Saat kejadian tersebut, saya belum terlalu memahami betapa mengerikannya kejadian tersebut. Akan tetapi, membaca novel ini, membuat saya tercekam. Bentrokan mahasiswa dengan polisi, tewasnya mahasiswa Trisakti, kerusuhan yang dibarengi oleh pencurian, perampokan dan pemerkosaan terhadap etnis Tionghoa. Betapa mengerikannya kejadian saat itu dan betapa traumatisnya kejadian tersebut kepada para korban. 😦

Seenak-enaknya di negeri orang, selalu lebih enak di negeri sendiri. Hal tersebutlah yang dirasakan oleh keempat tokoh tersebut. Keinginan untuk pulang ke Indonesia selalu menggebu di hati mereka, terutama bagi Dimas Suryo. Walaupun dia dan ketiga temannya telah dapat membangun Restoran Tanah Air, memiliki keluarga, membangun kembali kehidupan di Paris, keinginan untuk pulang ke tanah air tidak pernah padam.  Bagi Dimas, “Rumah adalah tempat di mana aku merasa bisa pulang”. Dan bagi Dimas, rumah itu adalah Indonesia, dan pulang adalah ke Indonesia.

Pada akhirnya, setiap orang selalu membutuhkan tempat untuk merasa pulang.

Resensi lain tentang novel ini dapat dibaca di sini.

2 thoughts on “Pulang

  1. Reviewnya menarik ^_^
    Tapi kurang suka dengan covernya. Mungkin kalau bukan rekomendasi teman, aku tidak akan melirik buku ini (lupa kata2 bijak “Don’t judge a book by it’s cover)

    1. iya.. covernya cuma nunjek gitu.. kurang eye catching. tapi isinya keren ternyata… in my opinion😀

Please feel free to give comment ^__^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s