Anugerah terindah

Subuh baru saja menjelang. Sang mentari masih malu-malu memunculkan dirinya. Daun-daun masih dihiasi tetes-tetes embun.

Aku terbangun. Kulirik jam di dinding masih menunjukkan pukul 5 pagi. Tidak sengaja sebetulnya aku terbangun, karena biasanya aku masih tertidur pulas jam segini.  Akan tetapi perasaan mendesak untuk buang air kecil ternyata harus membuatku terbangun.

Bergegas aku pun menuju ke kamar mandi. Sayup-sayup kudengar suara mama berbicara dengan Bik Minah.  Tidak sengaja aku mendengar pembicaraan mereka.

“Bik, saya dan bapak berangkat dulu ya. Nanti bilangkan saja ke Niar kalau kami harus ke Jakarta hari ini. Mungkin besok baru kembali.” Kudengar suara mama.
“Baik Nyonya, nanti saya sampaikan ke si Neng. Tapi.. bukankah hari ini ada acara di sekolahnya Neng Niar ya Nya… hmm, apa itu namanya ya Nya.. susah nyebutnya.”
“Sport event.. kegiatan olahraga Bik… ”
“Nah itu dia Nya namanya. Bukannya Nyonya dan Tuan sudah janji datang ke acara itu ya Nya… ”
“Nah itu dia Bik… ternyata kemarin kami ada panggilan mendadak dari pelanggan. Kami harus ke Jakarta hari ini juga untuk pembicaraan kontrak baru. Tolong Bik Minah saja yang datang ke sekolahnya Niar ya Bik”

Aku terkejut mendengarnya… sehingga tanpa sadar…

“Lho.. MAMA!!! Jadinya mama sama papa nanti gak bisa datang ke sekolahku?
Kulihat mama terkejut mendengar aku tiba-tiba membentaknya.
Niar!!! Tumben kamu sudah bangun jam segini…. Sampai kaget mama.. ”
“Aaah.. udah deh. Bener yang Niar dengar tadi kalau mama papa gak bisa datang ke sekolah hari ini?”
Mama nampak serba salah untuk menjawab pertanyaanku
Iya Niar.. maaf ya sayang.. Mama dan papa hari ini harus ke Jakarta. Calon klien baru kita minta hari ini kami bisa datang untuk menandatangani kontrak. Ini kontrak besar untuk perusahaan kita, jadi kami harus ke Jakarta hari ini. Nanti kamu ditemani Bik Minah ya sayang… ” Mama menjawab sambil mengelus rambutku.
“Selalu begitu! Selalu begitu! Selalu Bik Minah yang datang ke sekolah. Niar kan udah bilang ke teman-teman kalau mama dan papa akan datang melihat Niar lari.. ternyata Bik Minah lagi Bik Minah lagi… Sebetulnya Niar anak mama sama papa bukan sih?!!!”
“NIAR! Kamu kok ngomong gitu sih?!”
“Habisnya Niar malu Ma… Niar selalu diolok teman-teman karena hanya Niar yang tidak pernah didampingi orang tua. Teman Niar yang lain orang tuanya selalu datang ke acara sekolah. Niar sampai dikatain kalau Niar anak pungut. Jangan-jangan emang benar ya Niar anak pungut… ”
“NIAR!! Jangan sekali-sekali Mama dengar kamu berkata seperti itu lagi. Kamu kira mama dan papa kerja kayak gini ini buat siapa kalau bukan buat kamu. Sudah!! Mama harus berangkat sekarang ke airport. Papa sudah nunggu dari tadi di mobil.”

Mama pun bergegas keluar dan masuk ke mobil yang telah menunggu dari tadi.

Selalu begitu. Selalu mengutamakan pekerjaan dibandingkan aku. Sudah sering kali mama dan papa membatalkan janji yang mereka buat untuk datang ke acara sekolahku. Sering kali pula Bik Minah yang menggantikan mereka hadir di acara sekolahku. Gara-gara itu aku sering diejek sebagai anak Bik Minah oleh teman-temanku. Hari ini pasti aku akan lebih parah diolok-olok oleh mereka karena aku sudah sesumbar kalau mama dan papa akan datang. Aaah… aku sebal sekali…

>><<

“Hei.. kenapa kok ngelamun aja?”  Suara Marissa, sahabatku, mengagetkanku.
Aah kamu tuh bikin kaget aja…” Kataku sambil merengut.
“Hihihi.. abis ngelamun kok serius banget. Juara I Lomba Lari 100Meter kok malah cemberut aja, bukannya senang.”
“Iiih aku sebal tuh sama geng-nya Rosa. Mereka mengolok-olokku lagi karena orang tuaku gak datang hari ini. Aku sudah berusaha gak mendengarkan tapi tetap saja bikin panas kuping dan hati.”
“Oh itu… ya biarkan saja to Niar.. Biarkan saja mereka berkata apa. Jangan didengarkan. Mereka pasti iri karena mereka gak dapat juara apa-apa sementara kamu kan bisa dapat juara I.”
“Tapi Mar.. Bener gak ya.. kalau aku tuh anak pungut? Bukan anak kandung mama dan papa. Mungkin itu sebabnya mereka tidak pernah mau datang ke acara sekolahku.”
Tiba-tiba Marissa menjitakku..
Aduuh.. kamu tuh kenapa sih? Sakit tahu!!!” Jeritku.
Iya biarin. Biar kamu sadar dan gak mikir yang aneh-aneh. Dengerin ya.. Jangan sampai karena omongan orang lain kamu jadi meragukan orang tuamu. Yakin deh kalau mereka melakukan itu semua untuk kamu. Untuk masa depanmu…. Kamu seharusnya bersyukur bahwa kamu bisa hidup seperti ini. Banyak di luar sana yang kekurangan dari kamu. Aku yakin orang tuamu juga sedih kok tidak bisa datang ke kegiatan-kegiatanmu, tapi memang mereka harus bekerja, untuk kamu.”
“Tapi Mar…”
“Udah.. gak ada tapi-tapian.. mending sekarang, kamu traktir aku di bakso bakar. Ayooo.. daripada mikir yang aneh-aneh”
“Uuh.. kamu tuh.. makan mulu yang diinget.  Hmm tapi.. makasih ya Mar untuk nasihatnya.. Mungkin aku harus lebih bersyukur ya.. tidak melihat negatifnya saja dari orang tuaku.”
“Nah.. itu baru Niar yang kukenal”
“Makasih ya Mar…”
“That’s what friends are for…. “ 
Kami pun tertawa bersamaan dan melangkah keluar dari sekolah.

 >><<

Keesokan harinya, sepulang sekolah, aku melihat mama dan pap sudah ada di ruang keluarga.
“Lho.. mama! papa! kok tumben sudah pulang?”
“Niar.. sini deh duduk dekat mama…”
Aku pun mendekat dan duduk di sebelah mama “Ada apa Ma? Ada apa Pa?”
“Enggak. Mama dan papa mau minta maaf sama kamu karena sering sekali tidak datang ke acara sekolahmu… Mama juga tadi diceritain Bik Minah kalau kamu sering diolok temanmu karena itu.”
“Oh itu…”
“Kamu anak kami Niar… kamu tidak boleh meragukan itu. Kami bekerja seperti ini karena kami takut kamu hidup susah seperti kami dulu.”
Papa berkata kepadaku. “Karena ketakutan itu kami bekerja keras hingga seakan-akan tidak menghiraukanmu. Padahal kami hanya ingin kamu hidup lebih baik dari kami”  Papa melanjutkan ucapannya.
Sekarang kami sadar Niar.. bahwa kami harus lebih memperhatikanmu, bukan hanya memberikanmu harta belaka. Kami tidak ingin menjadi orang tua yang tidak bersyukur telah diberi anugerah yang begitu indah yaitu kamu.” Mama berkata lembut kepadaku.

Aku tercekat. Mungkin benar kata Marissa, kalau selama ini mama papa terpaksa tidak datang ke kegiatan sekolahku.

“Iya Ma..Pa.. Niar juga minta maaf kemarin berkata kasar ke Mama. Niar juga ingin lebih mengerti bahwa kalian bekerja keras untuk Niar dan seharusnya Niar bersyukur untuk itu” 
“Iya sayang… mulai hari ini, kita mencoba untuk lebih mengerti satu sama lain ya… “

Aah..  ternyata bersyukur itu nikmat ya…

Tulisan ini disertakan dalam TGFTD – Ryan GiveAway

banner-giveaway

2 thoughts on “Anugerah terindah

Please feel free to give comment ^__^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s