Hanya pada Allah kita berharap

Alkisah di sebuah kota, hidup seorang anak perempuan bersama ibunya. Dia masih memiliki kakak perempuan beserta keluarganya yang hidup di kota lain. Alhamdulillah, dia diberikan pekerjaan yang cukup baik sehingga bisa menanggung kehidupan dia dan ibunya. Di lain pihak, sang kakak tidak terlalu stabil keuangannya, didukung pula dengan tidak adanya fighting spirit dari kakaknya untuk keluar dari kesulitan keuangannya.

Hanya karena janjinya pada sang ayah yang sudah meninggal, sang adik mau menanggung biaya pendidikan keponakannya. Hal ini berat dia lakukan karena si keponakan termasuk anak yang sulit diatur dan banyak kemauannya walaupun kemampuan terbatas.

Sang ibu.. seperti ibu pada umumnya, seringkali tidak bisa menutup mata pada kesulitan anak perempuan pertamanya. Anak perempuan pertamanya ini pun menggunakan kesempatan ini dengan selalu mengeluh kepada sang ibu. Sedikit kesulitan di sini, sedikit kesulitan di sana selalu dikeluhkan kepada ibunya. Membuat sang ibu selalu berpikir dan pada akhirnya membuat sang adik ikut berpikir dan ikut membantu kakaknya karena tidak ingin ibunya kesusahan.

Sang adik seringkali merasa susah dan jengkel dengan kelakukan kakaknya dan keponakannya yang seringkali membuat ibunya khawatir. Bagi dia, sudah seharusnya kakak perempuannya bisa menyelesaikan persoalannya sendiri, toh dia sudah menikah, tidak sedikit-sedikit mengeluh pada ibunya tentang masalah keuangan di keluarganya.

Dia berharap kakaknya bisa berubah menjadi lebih dewasa, lebih mengerti untuk tidak membebani sang ibu dan untuk mulai berdiri di atas kakinya sendiri.
Tapi.. dia kecewa, karena dari hari ke hari sang kakak tidak pernah berubah. Kebiasaan memang hal yang sulit untuk dirubah.

Dia berharap keponakannya dapat berubah menjadi lebih santun dan mengerti akan kondisinya. Tidak bergaya hidup mewah ketika sebetulnya dia tidak mampu.
Tapi.. dia kecewa, karena tidak ada sedikit pun perubahan dari si keponakan.

Dia berharap ibunya akan lebih mengerti bahwa dia melakukan semua ini demi janji pada ayahnya dan untuk membahagiakan ibunya. Dia berharap agar ibunya berhenti terlalu memikirkan kehidupan keluarga kakak perempuannya. Dia berharap agar ibunya bisa melepaskan kakaknya untuk dapat berdiri di atas kaki sendiri dan tidak selalu membantu ketika sang kakak mengeluh kepadanya.
Tapi.. dia kecewa, karena tidak mungkin sang ibu tidak memperhatikan anak-anaknya. Itu sudah kodrat seorang ibu.

Pada akhirnya.. dia menyadari bahwa berharap pada manusia dapat memberikan kekecewaan.
Semua kekecewaan itu menyakitinya.

Pada akhirnya.. dia menyadari bahwa keikhlasan lah jawaban untuk menyembuhkan kekecewaannya.
Dan hanya pada Allah lah dia harus berharap, karena insya Allah, Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya.

– jika ikhlas itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya –

2 thoughts on “Hanya pada Allah kita berharap

Please feel free to give comment ^__^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s