[Berani Cerita #28] Pernikahan

Pesawat yang ditumpangi Bunda telah mendarat. Aku menanti dengan tidak sabar di luar pintu kedatangan. Aah, betapa aku merindukan beliau.

Tidak berapa lama, aku melihat sosoknya keluar dari pintu kedatangan. Usianya yang bertambah senja, tidak membuatnya kehilangan semangat hidup. Beliau tetap nampak bugar dan penuh vitalitas.

“Bunda…..!! ” Aku memanggil beliau.

Bunda menoleh dan senyumnya merekah ketika melihatku. Aku menyongsongnya, mencium tangannya kemudian memeluknya.

“Aah, Bunda kangen sekali sama kamu Nak… ”

“Winnie juga Bunda… Kangen berat sama Bunda, Kayak sudah bertahun-tahun gak ketemu, padahal baru beberapa bulan ya Bunda….. ” Bunda hanya mencubit pipiku dan menatapku dengan pandangan sayang.

Kemudian Bunda melihat sosok lelaki yang sedari tadi berada di sampingku. Beliau memandang lelaki tersebut, kemudian memandangku dengan pandangan bertanya-tanya.

“Oh ya, kenalkan Bunda. Namanya Hans. Dia temannya Abang. Abang ada janji dengan klien yang tidak bisa ditinggal, jadi tidak bisa ke sini menjemput Bunda.. Hans menawarkan untuk menemaniku menjemput Bunda.. Katanya, kasian kalau aku sendirian menjemput Bunda.. ” Aku menjelaskan.

“Selamat pagi Bu.. Nama saya Hans. Senang sekali bertemu dengan Ibu. Saya sering sekali mendengar cerita tentang Ibu dari Alvian dan Winnie.  ” Hans memperkenalkan diri kepada Bunda dengan bahasa Indonesianya yang cukup lancar.

“Eh, bisa bahasa Indonesia tho.. Kirain orang asli Belanda sini.”

“Iya Bu, saya memang asli Belanda, tapi saya mempelajari bahasa Indonesia karena.. karena ada seseorang yang istimewa” jawab Hans sambil melirikku.

Bunda tersenyum penuh arti memandangku… Aku menjadi serba salah karenanya. Aaah Bunda, andai Bunda tahu…

Tidak berapa lama, kami sudah berada di mobil. Melaju di jalan tol, menuju ke kediamanku. Bunda dengan antusias melihat jalanan di depannya.

“Bagaimana Abangmu sekarang?” Bunda melepas pandangan dari jalanan.

“Baik saja. Tak apa-apa,” kubilang. Aku menarik nafas, sambil terus melaju di jalan tol. Apa yang bakal terjadi ketika bunda berjumpa abangku nanti?

“Bunda lega sekali ketika mendengar abangmu akan menikah.  Akhirnya dia menemukan juga wanita yang akan dijadikan pendamping hidupnya. Bunda sudah khawatir saja dia tidak akan pernah menikah.”

Aku hanya terdiam. Tidak sanggup memberikan komentar apa pun. Kulihat, Hans pun hanya memandang keluar jendela.

“Bagaimana wanita itu Winnie? Siapa namanya? Di telepon, Abangmu hanya mengatakan dia akan menikah dan meminta Bunda yang datang ke sini. Dia bahkan tidak mengatakan namanya. Apakah kamu mengenalnya Winnie?”

“Emm, nanti saja Bunda bertanya langsung pada abang ya.. ”

Akhirnya, kami tiba di kediamanku. Kulihat Abang telah menunggu di tempat parkir. Melihat mobilku, dia bergegas menyambut kami.

“Bundaa… akhirnya Bunda datang juga ke sini… Vian kangen banget sama Bunda..” Abang mencium tangan Bunda dan memeluknya lama.

“Vian… Bunda juga kangen banget sama kamu. Kalau kamu tidak memaksa untuk menikah di sini, Bunda mungkin gak akan pernah ke sini..” Bunda berkata kepada abangku. Abang hanya terkekeh, kemudian merangkul Bunda.

“Jadi, kapan kamu akan mengenalkan Bunda kepada wanita itu? Siapa namanya Nak?”

Aku terdiam, tidak tahu harus berbuat apa.

Abang tercenung beberapa saat, kemudian melepaskan rangkulannya dari Bunda dan berjalan ke arah Hans..

“Bunda pasti sudah berkenalan dengan Hans di airport tadi. Dia dan Vian… Kami…. akan menikah bulan depan Bunda.”

Total kata : 493

berani cerita #28

19 thoughts on “[Berani Cerita #28] Pernikahan

Please feel free to give comment ^__^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s