[Berani Cerita #29] Puntung Rokok Terakhir

Rokok

Aku melangkah memasuki pintu depan rumah, seketika itu juga aku mendengarnya..

“Ampun Yaah… Ampun… Sakiit Yaah…”
“INI PELAJARAN BUAT KAMU!! SUDAH BERAPA KALI AYAH BILANG JANGAN MASUK RUANG KERJA AYAH. ANAK BANDEL, SEKARANG RASAKAN INI BIAR KAMU KAPOK!”

Aku bergegas ke arah suara-suara itu, kulihat suamiku sedang menyundut Iwan dengan putung rokok yang tersisa di tangannya.

“MAS!! HENTIKAN MAS!!! APA YANG KAMU PIKIRKAN??!!!”

Seketika itu juga aku berusaha melindungi Iwan, anak kami, dari sundutan rokok di tangannya.

“MINGGIR KAMU. ANAK INI HARUS DIBERI PELAJARAN SUPAYA TIDAK SEMAUNYA SENDIRI. MINGGIR KAMU!!”

Tapi Mas.. Dia kan bisa dinasehatin, tidak perlu disiksa dengan puntung rokok itu….” Aku masih bertahan memeluk Iwan.

SUDAH KUBILANG MINGGIR KAMU! Dia tidak akan mengerti kalau hanya dinasehatin.. Dia harus diberi pelajaran seperti ini supaya mengerti”

“Tapi Mas….”

SUDAH!! MINGGIR! ATAU KAMU JUGA MAU KUTAMPAR?!!”

Suamiku melepaskanku paksa dari Iwan dan mendorongku keluar dari ruangan. Masih kudengar isak tangis dan jeritan Iwan yang terus disiksa oleh suamiku dengan puntung rokok itu.

Maafkan Ibu Iwan…. Ibu tidak bisa melindungimu….. Aku hanya menangis dalam diam dan berusaha menutup telinga dari jerit tangis Iwan. Kejadian ini kerap terjadi, dan aku selalu tak berdaya untuk menghentikannya.

>><<

Aku terbangun.. Ah, mimpi itu, masih kerap datang dalam tidur-tidurku. Entah sampai kapan mimpi itu akan hadir dalam tidurku

Aku bergegas bangun dari tempat tidur. Hari ini Iwan berulang tahun dan aku ingin membawakan masakan kesukaannya ke asrama tempat dia tinggal sementara ini.

Sudah pukul 10 ketika aku tiba di asrama itu. Petugas yang ada di meja depan menyambutku dengan senyumnya seperti biasa.

“Ah, Ibu Kusumi, mau mengunjungi Iwan ya Bu?”
“Iya nih Sus. Hari ini dia ulang tahun, jadi saya ingin mengadakan syukuran kecil-kecilan di sini..”
“Tapi Bu….”
Suster itu seolah berat untuk mengatakan sesuatu.
“Iya, saya paham kok Sus.. Saya hanya ingin merayakan saja dengan suster-suster di sini..”
“Kalau begitu.. mari Bu, saya antar ke ruang Iwan..”

Ketika kami tiba di ruangan Iwan, kulihat dia terdiam mematung di ruangannya. Pandangannya kosong seolah tidak memperdulikan lingkungan sekitarnya.

“Dia masih seperti itu Bu. Belum ada kemajuan berarti semenjak dia masuk ke rumah sakit ini 3 bulan yang lalu.. Terkadang dia jongkok di pojok sambil melakukan sesuatu. Melihat gerakannya, nampaknya dia sedang menyundutkan rokok ke arah seseorang di pojok sana…”

Aku hanya terdiam. Ingatanku kembali ke kejadian 3 bulan yang lalu

Aku kembali dari pasar pagi itu. Kulihat Iwan berdiri di ruang keluarga. Tangannya memegang puntung rokok. Aku terkejut sekali melihatnya.

“IWAN!! Apa yang kamu lakukan Nak? Kenapa kamu memegang puntung rokok ayahmu? Ayo letakkan! Nanti dia marah dan menyundutmu lagi dengan puntung rokok itu.” Aku berjalan ke arahnya.

Betapa terkejutnya aku ketika memasuki ruang keluarga. Suamiku tergeletak bersimbah darah. Tak bergerak. Tubuhnya dipenuhi dengan sundutan rokok.

“Sekarang ayah tidak bisa menyundut Iwan lagi dengan puntung rokok Bu..”

Total huruf : 460

banner-BC_29

18 thoughts on “[Berani Cerita #29] Puntung Rokok Terakhir

      1. bisa jadi. seseorang yang diam saja menaham sesuatu di dalam dirinya… ketika dikeluarkan bisa jauh berkali-kali lipat besarnya

  1. Gaya penulisannya bagus! Gue suka! Tapi endingnya agak dipaksain … Pikiran seorang anak emang kadang di luar logis. Tapi pembunuhan itu yg dipaksain. Ayahnya bersimbah darah diapain? Masa’ cuma disundut rokok?

    1. Mmm, maksudnya sih si anak itu bunuh ayahnya dulu.. trus setelah ayahnya tewas baru disundut rokok.. tapi agak susah dimengerti ya… terima kasih ya masukannya…🙂

Please feel free to give comment ^__^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s