[Berani Cerita #39] Tas Merah Mantili

images
Credit untuk foto di sini

Aku kembali mematut diri di depan cermin. Penampilanku hari ini SEMPURNA! Tas merah yang tercangklong di pundakku semakin menambah manis penampilanku. Hmm, teman-teman satu genk pasti iri melihat tas merah ini.

>><<

“Hai Girls.. Maaf ya telat… ” ucapku ketika tiba di Cafe tempat genk-ku biasa berkumpul.
“Ya ampun saay, kemana aja sih? kok baru datang jam segini?” Astrid berdiri menyambutku diikuti oleh Imelda dan Anna. Kami bercipika-cipiki sejenak.
“Si Pak Tino tuh nganterin Mami ke arisan di daerah Cendana gak balik-balik, jadi deh naik busway ke sini”  Aku sedikit jengkel mengingat perjalananku tadi menuju cafe ini gara-gara mama meminta Pak Tino mengantarkan ke arisan. Kuletakka tas merahku di meja, sedikit profokatif sebetulnya.

“OMG Mantili! Ini kas tas merah yang jadi trending topic itu?” Astrid hampir berteriak ketika melihat tas merah itu.
“Hah?! Masa sih?” Imelda menimpali
“Oh iya bener.. ini lihat mereknya.. modelnya…  Kamu beli di mana Man?” Anna bertanya kepadaku penasaran.
“Kemarin dibeliin Mami di Paris Girls. Mami melihat tas merah itu dan ingat aku donk, anak semata wayangnya. Jadi dibeli deh itu tas. Agak mahal sih soalnya kan pake Euro ya.. tapi worth it lah.” ucapku berusaha terlihat biasa.
“Ih enak bener ya jadi kamu.” Astrid berkata.
“Ah, biasa aja lagi. Nasibnya anak semata wayang ya gini lah. Eh, pesen yuk, aku udah lapar nih” sahutku

Ketika sedang asik ngerumpi dan makan, tiba-tiba seseorang memanggil namaku.

“Non Mantili… Akhirnya ketemu juga!”
Aku nampaknya hapal suara ini, tapi kenapa dia ke sini? Pandanganku agak lamur karena aku tadi melepas kacamataku ketika akan makan.  Setelah kupasang kembali kacamataku, benarlah itu si Ijah, pembantuku di rumah. Ngapain dia ke sini?
“Jah! Ngapain kamu ke sini?”
“Duh Non Mantili nih ya. Punya handphone itu mbok ya kalau ada yang telepon diangkat, kan Ijah tidak perlu jauh-jauh ke sini Non.” pembantuku yang bawel ini sukses mengomeliku di depan teman-temanku. Selain bawel, si Ijah ini juga punya volume suara yang maksimal. Dulu pernah kuminta untuk mengecilkan volume suaranya tapi katanya itu kebiasaan waktu di kampungnya dan tidak bisa dia rubah.  Jadilah aku pusat perhatian di cafe ini gara-gara si Ijah. Kubuka tasku dan mengambil handphone. Kulihat ada 17 missed call dari Mami. Ups, nampaknya aku tidak sengaja men-silent handphone.

“Iya Jah. Sorry, ke-silent. Ada apa Jah sampai harus disusul ke sini? Lagian kok kamu tahu aku ada di sini?”
“Lah, kan Non pamit ke Nyonya kalau Non ke Cafe Bumi dan Langit. Nyonya pesan kalau Non jangan pulang terlalu sore. Soalnya Bu Broto mau mengambil pesanan tas merah yang kemarin titip ke Nyonya untuk dibeliin di Pasar Atom Surabaya abis magrib nanti. Itu tasnya yang Non pakai.”

Aku mendadak merasa dunia terhenti.

“Lagian si Non, ngapain sih tas pesanan kw gitu dipakai. Non kan bisa beli sendiri.” Ijah masih mencerocos sendiri, tidak menyadari akibat dari perkataannya.

“Udah ya Non. Ijah balik dulu, kerjaan Ijah banyak, lagian ditunggu Pak Tino”  Ijah kemudian ngeloyor pergi tanpa menungguku mengucapkan sepatah kata pun.

Aku hanya bisa melihat si Ijah berlalu dan kurasakan mukaku merah padam.

Catatan : Cipika-cipiki = cium pipi kanan, cium pipi kiri

Jumlah Kata : 498

banner-BC#39

13 thoughts on “[Berani Cerita #39] Tas Merah Mantili

Please feel free to give comment ^__^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s