[Prompt #31] Harga Keabadian

Prompt 31

Di samudera tak terjamah
Ketika seluruh radar tak berfungsi
Pada purnama ketujuh
Kau kan menemukan yang kaucari

Itulah petunjuk dari Sinto Cangkring, penunggu Gunung Kahyangan. Aku rasa aku telah tiba di tempat yang dimaksud oleh petunjuk tersebut. Sebentar lagi, tirta amerta, air keabadian, akan segera kumiliki.

Aku, Bramantya Agung Wicaksono. Orang mengenalku sebagai pengusaha muda yang sukses. Siapa yang tidak tahu Konglomerasi Group dan aku sudah menjadi pemimpin Group tersebut di umurku yang ke-35. Di bawah kendaliku, Group ini berkembang pesat, melebihi pencapaian pemilik tahta sebelumnya, ayahku sendiri.  Di umurku yang ke-40, aku merasa sempurna. Harta, tahta, wanita, semua kumiliki.

Hingga berita tentang penyakit ini datang kepadaku bagai petir di siang bolong. Penyakit laknat yang pasti kudapatkan dari kehidupan bebasku. Aku belum ingin mati. Aku ingin keabadian untuk terus dapat menikmati kehidupanku.

Pencarian panjangku akhirnya membawaku ke sini. Kukeluarkan rapalan yang dituliskan Sinto Cangkring dan mulai membacanya. Mula-mula tidak ada reaksi apapun. Kemudian kulihat air laut mulai bergemuruh, membentuk pusaran seolah-olah ada yang mengaduk dasar samudera. Tiba-tiba muncul sesuatu dari tengah pusaran. Pasti dia Pesudon, yang dimaksud oleh sang Sinto.

“Ada apa kau memanggilku Manusia?”
“Aku menginginkan Tirta Amerta!”

Sang Pesudon nampak terkejut mendengar jawabanku.

“Untuk apa kau menginginkannya?”
“Aku ingin keabadian” jawabku dengan yakin.
“Hah! Untuk apa kau menginginkan keabadian? Kau akan bosan hidup nanti” sang Pesudon mencemoohku.
“Itu tidak akan terjadi!”
“Ada harga yang harus kau bayar untuk mendapatkan air abadi ini Hai Manusia!”
Hah! Ternyata dia sama saja dengan lainnya, semua tentang uang, pikirku.
“Berapa harga yang kau minta? Kekayaanku pasti akan cukup untuk membayar harga yang kau minta.”
“Kau sombong sekali Manusia. Pikirkanlah sekali lagi tentang permintaanmu!”
“Tidak ada yang perlu kupikirkan lagi!”
“Baik! Jika itu keinginanmu. Pulanglah! Tirta amerta akan ada di kamarmu. Minumlah dan kan kau dapatkan yang kau inginkan.
“Apa aku bisa memegang kata-katamu hai Pesudon? Aku tidak jauh-jauh datang ke sini untuk kau bohongi.”
“Aku tidak pernah mengingkari kata-kataku, tidak seperti kalian Manusia!

>><<

Aku membuka mataku. Ternyata aku masih diberi kehidupan pagi ini. Rasa sepi kembali menyergapku. Harga yang diminta oleh sang Pesudon ternyata tidak hanya kekayaanku, tapi juga keluargaku. Sesuatu yang tidak pernah kuhargai selama ini. Tiba-tiba kondisi Konglomerasi Group memburuk, menyebabkan ayahku kembali turun tangan dalam bisnis. Aku didepak dari keluarga besar Wicaksono. Istri dan anak-anakku pun pergi meninggalkanku.

200 tahun telah berlalu. Aku mendapatkan keabadianku tapi tidak kebahagiaanku. Entah berapa lama lagi aku hidup untuk menyesali keputusanku.

Jumlah Kata : 398

Diikutkan dalam MFF Prompt #31 dengan tema Tirta Amerta

8 thoughts on “[Prompt #31] Harga Keabadian

    1. mungkin karena semua yang dia kenal hanya melihat dia sebagai bagian keluarga besar wicaksono mas, jadi begitu dia didepak dan miskin, gk ada yg mau..😀

      cerita ke-2 mas rifki yo keren kok. lebih nyambung sama tema daripada yang pertama walaupun yang pertama penuh muatan ilmu sih🙂

    1. iya.. mungkin kalau lama bisa ngumpulin bekal buat “hidup abadi” enak ya..😀

      jarang itu.. soalnya kadang sinyalnya gak ngangkat. paling wp andro hanya untuk cek notif sama bikin postingan baru yg gak ribet harus pake gambar dan link. kenapakah ?

      1. Ooo. Saya sering buka di hape sih readernya. Cuma beberapa hari ini readernya nggak bisa dibuka. Jurnalnya ada tapi pas mau baca nggak ada tulisannya😀

Please feel free to give comment ^__^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s