[Prompt #70] Bersalah

index
Sumber

Pucuk cemara sudah merunduk menyongsong malam. Yang menunggu penjemputan sudah meninggalkan pekarangan dengan puji syukur setinggi langit. Tinggal aku sendiri yang masing mencangkung di pojok sambil terus melotot ke pintu pagar, berharap kalau-kalau ada yang mendekat. Yang ada cuma angin senja, menerbangkan bau rerumputan bercampur debu, memperberat kecemasanku.

“Mas Koyo,” orang yang sebentar-sebentar melemparkan pandang ke arahku dari pagar kawat berduri, tiba-tiba menghampiri, merapat, membuatku tegak. “Saya Kiswoyo, masih ada hubungan darah dengan Mbak Uci,” katanya menyebutkan nama akrab istriku. Aku merunduk dibuat ucapannya itu. Istri! Bisikku dalam hati. Ada duka di balik kata itu. “Sudah gelap. Kelihatannya dia tak bakalan datang. Kalau Mas tak keberatan, ikut saya saja. Nginap dulu di rumah saya. Tak jauh dari sini,” sambungnya.

Aku tercenung memandang orang di depanku ini. Curiga, itu insting pertamaku. Apalagi aku tidak pernah mengingat ada sepupunya Uci yang bernama Kiswoyo.

“Saya sepupu jauh Mbak Uci. Kita memang belum pernah ketemu karena saya baru kembali ke Indonesia setelah Mas Koyo masuk penjara.” ujar Kiswoyo seperti membaca kecurigaanku.

“Kenapa Uci tidak menjemputku ? ”

“Nanti saja saya jelaskan. Mari, Mas. Keburu malam.”

Aku pun melangkah mengikuti Kiswoyo. Paling tidak aku ada tempat bermalam malam ini. Sejujurnya aku tidak mengharapkan siapapun akan menjemputku hari ini. Aku kehilangan kontak dengan keluargaku semenjak masuk penjara. Mereka benar-benar percaya bahwa aku telah membunuh iparku sendiri. Sementara Uci, dia tidak pernah mengunjungiku lagi di tahun kedua aku di penjara. Getir hatiku mengingat hal itu.

Rumah Kiswoyo sederhana tapi apik. Dia telah menyiapkan sebuah kamar untukku. Sebuah hal sederhana, tapi membuatku merasa dihargai. Perasaan yang hilang selama aku mendekam di penjara.

“Silakan beristirahat, Mas. Kebetulan istri dan anak-anak sedang bermalam di rumah eyangnya, jadi Mas Koyo tidak usah sungkan-sungkan. Kalau mau makan, ambil saja di dapur ya.”

“Oh ya, Uci sekarang di mana? Bagaimana keadaannya?”

Kiswoyo nampak ragu.

“Ada apa dengan Uci, Mas?” aku mendesak Kiswoyo.

“Besok saja saya jelaskan. Mas Koyo istirahat dulu.”

“Sekarang saja, Mas. Aku malah penasaran dan tidak bisa beristirahat nanti.”

“Kalau begitu tunggu sebentar, Mas.”

Kiswoyo pergi ke kamarnya. Tidak lama dia kembali sambil membawa sebuah amplop.

“Mas, ini dari Mbak Uci. Dia menitipkannya padaku sebelum dia meninggal. Silakan Mas Koyo baca dulu.” Kemudian Kiswoyo meninggalkanku sendiri.

Aku membuka amplop tersebut dan membaca surat yang berada di dalamnya.

Mas Koyo, jika Mas membaca surat ini berarti Mas Koyo sudah bebas. Aku sangat berbahagia melihat dirimu bebas kembali, Mas. Aku minta maaf jika aku tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu.

Maaf, aku pergi mendahuluimu. Aku tidak sanggup lagi menanggung rasa bersalah kepadamu, Mas. Aku telah menutupi hal yang sebenarnya dan membuatmu harus masuk penjara.

Hari itu, aku dan ayah ke rumah Mas Bram. Ayah bermaksud meminta penjelasan karena mendapat laporan bahwa Mas Bram telah menggunakan uang toko untuk menutupi hutang-hutang judinya. Ketika kami tiba, Mas Bram mabuk berat sehingga yang terjadi malah perdebatan panas. Tiba-tiba Mas Bram menodongkan pisau ke arah ayah. Aku sangat terkejut dan tidak mampu berbuat apa-apa. Dalam usaha ayah membela diri, Mas Bram malah yang tertusuk oleh pisau tersebut. Dalam keadaan panik, aku bergegas mengajak ayah keluar dari sana dan berusaha tidak meninggalkan bukti apapun atau terlihat oleh siapapun.

Aku tidak tahu jika Mas Koyo juga ke rumah Mas Bram dan bertengkar dengannya di hari naas itu. Ketika polisi mencurigaimu, aku tidak mampu berkata apa-apa, Mas. Ayah sudah akan mengaku tapi aku larang karena pagi harinya kami baru mendapatkan kabar dari dokter bahwa ayah menderita kanker darah stadium 4. Ayah harus mendapatkan pengobatan karena itu aku memohon kepada ayah untuk tidak mengaku.

Perasaan bersalah kepadamu, kepadaku dan karena menyebabkan Mas Bram meninggal membuat ayah semakin lemah. Ayah hanya bertahan sembilan bulan sejak dirimu diputuskan bersalah. Dan aku pun memutuskan menyusulnya.

Maafkan aku, Mas

Istrimu

 Jumlah kata : 497

Diikutkan dalam Mondah Flash Fiction Prompt 70

15 thoughts on “[Prompt #70] Bersalah

      1. iya, sih.. aku nggak ngerti kenapa.| dalam bayanganku begini, si ayah sudah tua (ya iyalah!) sakit kanker stadium 4 pula. harusnya sih sudah tinggal berbaring aja, nggak bisa ngapa-ngapain. lha, kok masih bisa membunuh (walau nggak sengaja)? gitu.🙂

Please feel free to give comment ^__^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s