[Prompt #72] Suara-suara

images
Sumber

“DELI! Kurang tinggi lompatanmu!”

“Ini sudah tinggi! Harus setinggi apa aku melompat?”

“Lompatan segitu tinggi? Hah! Kau tahu chandelier? Setinggi apa biasanya chandelier digantung? Kau harus melompat seolah-olah kau berayun dari satu chandelier ke chandelier yang lain.”

“Mengapa konsep tarian ini harus begitu rumit?”

“Sudah, jangan cerewet. Lakukan yang kuperintahkan!”

“Kenapa aku harus sudah latihan lagi? Bukankah pertunjukan berikutnya masih enam bulan lagi. Selain itu, aku kan baru saja memenangkan kompetisi balet minggu kemarin. Harusnya saat ini masih dalam masa menikmati kemenangan.”

Kalau kamu baru berlatih mendekati hari pertunjukan, kamu tidak akan bisa sebagus sekarang ini. Kamu akan sama saja dengan yang lainnya.”

“Huh! Kadang-kadang aku capek punya pelatih sepertimu. Terlalu penuntut!”

“Kalau memang bosan denganku, kamu hanya perlu minum obatmu kan? Bukannya malah minum minuman yang memabukan seperti itu.”

“Kau tahu?”

“Tentu saja aku tahu. Aku kan pelatihmu!”

“Tapi, minuman itu menenangkan. Membuatku melupakan kenyataan.”

“Kenyataan itu bukan untuk dilupakan, Deli. Kenyataan itu harus dihadapi. Jangan lari dari kenyataan.”

“Kau tahu? Itu sebabnya aku mempertahankanmu sebagai pelatih. Kau kadang bijaksana.”

“Kau sadar seharusnya aku tidak melatihmu? Seharusnya kamu meminum obatmu sehingga aku seharusnya tidak ada.”

“Kalau kamu tidak ada, aku tidak akan sesukses sekarang.”

Pintu ruang latihan tiba-tiba terbuka.

“Deli, kamu bicara dengan siapa?”

Aku memandang manajerku. Wajar saja dia heran. Aku hanya sendirian di ruangan ini ketika dia masuk.

“Tidak dengan siapa-siapa. Aku hanya berdiskusi dengan diriku sendiri tentang konsep pertunjukan enam bulan lagi.”

“Kamu memang pekerja keras, Deli. Aku sungguh beruntung menjadi manajermu. Sekarang, sebaiknya kamu bersiap-siap. Pesta untuk merayakan kemenanganmu di kompetisi minggu lalu akan dimulai satu jam lagi. Akan banyak wartawan dan orang terkenal, kamu harus tampil sempurna!”

“Ya, aku harus tampil sempurna!”

Manajerku hanya tersenyum dan berlalu dari ruangan. Aku menghela napas. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku harus menutupi kenyataan ini. Hanya sahabatku yang juga merupakan dokterku yang tahu tentang hal ini. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka tahu aku tidaklah sesempurna yang mereka bayangkan.

“Deli, apa yang kamu takutkan jika mereka tahu tentang penyakitmu?”

“Apa kamu bercanda?! Mereka pasti akan menganggapku aneh. Mereka akan menganggapku gila. Mereka akan menjauh. Kesuksesanku akan hilang tak berbekas. Mereka tidak akan mengerti bahwa orang yang mengidap schizophrenia tidak selamanya harus dikurung di rumah sakit jiwa! Tidak akan ada orang yang mengerti! Tidak akan ada orang yang mendukungku lagi!”

“Sahabatmu selalu mengerti dan mendukung dirimu. Kamu hanya harus meminum obatmu dan mengikuti nasihat doktermu. Kamu akan baik-baik saja.”

“Kalau aku meminum obat itu, aku mungkin tidak akan mendengar suara-suara di kepalaku lagi. Akan tetapi, itu berarti aku harus kehilanganmu. Pelatih penuntut seperti dirimu adalah suara terbaik yang kudengar di kepalaku.”

Jumlah kata : 437

Diikutkan dalam Monday Flash Fiction Prompt #72 : Chandelier

19 thoughts on “[Prompt #72] Suara-suara

  1. enggak selamanya penderita schizophrenia itu menyakiti diri sendiri yah?
    soalnya baca di cerita lain, penderitanya sering memukul diri sendiri, dan bisa bunuh diri

    1. Tidak selalu, Mas. Saya ini terinspirasi dari serial drama Perception. Di situ tokok utamanya penderita schizophrenia dan dia adalah seorang Profesor yang mengajar ilmu yang berkaitan dengan otak (lupa euy nama keren mata kuliahnya). Artinya mereka bisa hidup senormal yang mereka bisa asalkan dengan beberapa kondisi.🙂

  2. hay mbakk aku suka ide ceritanya tapi ada yang kurangh sreg..
    peegantian pove aku dari deli tiba2 ke suara di dalam kepapanya.. mingkin lebih baik pake pov 3 aja karena ini ff yg singkat..
    mereka yg mengidap skiso nggak pernah tahu kalau merekaa mengidap hal itu Mbak. kecuali kalau sudah diterapii…
    dan saran aja sih akannlebih bagus kalau scizonya Deli di tunjukann bukan diceritakan…
    Sudah gitu aja
    salam kenal

    1. Hai Mbak Ajen.. Makasih ya bersedia mampir dan sarannya….

      Ini memang ceritanya kubuat seperti dialog. kalau pake POV 3 idenya mentok hehehehe

      Di cerita ini juga ceritanya Deli tahu kalau dia skiso tapi dia menolak terapi. Ada beberapa dialog kan yang menunjukkan kalau si suara menyuruhnya minum obat. itu maksudnya obat utk mengurangi symptom halusinasi yang diderita penderita skiso.

      but anyway.. makasih banget untuk sarannya dan salam kenal juga🙂

    1. Emm, tapi, Mas, kalau hanya berhenti di bagian manajernya masuk, apa pembaca gak sangat bertanya-tanya ya kok dia sendirian…

      dan misalkan dikasih penjelasan dulu bahwa dia schizo sebelum si manajer masuk, efeknya juga gak dapat… imo….

      >_<

Please feel free to give comment ^__^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s