Dia Selalu Ada

Aku memandang ke luar jendela. Tetesan air masih terlihat jatuh dari dedaunan. Bau tanah basah masih bisa kuhirup aromanya. Hujan baru saja berhenti, tapi nampaknya dia belum puas membasahi bumi. Kulihat, mendung masih menggayut di atas sana. Aku tidak keberatan dia kembali turun. Setidaknya, dia bisa kujadikan alasan mengapa aku masih bertahan di sini, di saat semua orang bergegas pulang.

”Dafa? Kamu jadi ikut ke rumahku kan?”

Aku menoleh terkejut. Kulihat Arini berjalan ke arahku. Sebelum kuliah tadi, Arini mengajakku untuk ke rumahnya. Akan ada acara berbuka puasa bersama anak yatim di rumahnya.

Aku menimbang-nimbang ajakannya. Sebetulnya ada sisi hatiku yang berat untuk ikut ke rumahnya. Kalau aku ke rumah Arini, berarti di sana aku harus menyaksikan dia dan keluarganya. Tapi, aku pun malas ke kosan dan melamun di sini menjelang buka puasa jelas bukan ide yang bagus.

“Tapi, tidak apa-apa nih aku ikut ke rumahmu? Makanku banyak lho, Rin.“

Arini tergelak, “Hallaaah.. emang kamu bisa makan sebanyak apa sih? Badan kerempeng gitu. Tidak apa-apa lah. Lagian aku juga senang ada yang bantuin.”

Aku hanya nyengir mendengar perkatannya. “Ayo, kalau begitu,” aku mengiyakan ajakannya.

***

Ketika kami tiba di rumah Arini, suasana masih tampak lengang.

“Yuk, masuk,” ujar Arini.

“Yang mau bukber di sini nanti anak yatim dari mana, Rin?”

“Mereka dari panti asuhan di sekitar perumahan sini saja. Setiap tahun biasanya Papa dan Mama memang mengadakan acara bukber dengan mereka.”

Ketika kami masuk, aku melihat seorang wanita separuh baya sedang mengatur tatanan di ruang tamu. Arini menghampiri kemudian mencium tangan wanita tersebut.

“Assalamualaikum. Ma, ini Rini mengajak Dafa, teman Rini yang sering Rini ceritakan itu lho,”

“Waalaikumsalam. Nak Dafa, Tante senang akhirnya bisa bertemu langsung denganmu,” Mama Arini menyambutku hangat. Aku pun mendekat kemudian mencium tangan beliau.

“Saya juga senang sekali bisa bertemu dengan Tante. Maaf jadi merepotkan karena ikut berbuka puasa di sini.”

Tidak apa-apa, Nak Dafa. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk teman-temannya Rini. Kalian beristirahat dulu saja. Kan baru pulang kuliah.”

“Oh, tidak usah, Tante. Sudah hampir setengah lima, nanti malah tidak nututi untuk persiapan berbukanya,” aku menjawab.

“Kalau begitu, tolong kalian lap piring-pirng dan gelas di sana ya.”

“Iya, Ma. Yuk, Fa.. “

****

Pukul setengah enam, persiapan untuk berbuka sudah hampir selesai.  Tidak lama kemudian, anak-anak dan pengurus dari panti asuhan pun mulai berdatangan. Melihat anak-anak yatim piatu itu, aku trenyuh. Mereka sudah kehilangan orangtua, akan tetapi, mereka masih bisa bergembira seperti itu. Tidak tampak ada kemarahan di wajah mereka atas nasib yang menimpa mereka. Bagaimana mereka bisa begitu? pikirku.

Acara malam itu berjalan dengan lancar. Aku merasakan kehangatan yang sudah lama tidak pernah kurasakan, sejak kejadian setahun lalu. Ketika acara usai, malam sudah cukup larut, sehingga aku dipaksa Arini dan orangtuanya untuk menginap.

“Rin.. kamu beruntung ya..”

Kami sudah berada di kamar dan siap untuk tidur sebetulnya. Akan tetapi aku tidak tahan untuk mengungkapkan apa yang kurasakan.

“Beruntung kenapa, Fa?”

“Kamu punya keluarga yang hangat. Walaupun kamu anak tunggal, aku yakin kamu tidak pernah merasa kesepian.”

“Aku juga iri dengan anak-anak yatim itu. Bagaimana mereka bisa memiliki perasaan sebersih itu? Tidak nampak marah atas nasib mereka?” aku masih melanjutkan cerocosku.

“Dafa, kamu kenapa sih? Kok tau-tau iri sama aku dan anak-anak itu?”

Aku terdiam sejenak “Aku iri, karena aku tidak punya lagi keluarga seperti kamu. Aku iri sama mereka, karena mereka nampaknya bisa ikhlas menerima nasib mereka. Kamu tahu kan Rin, kalau orangtuaku meninggal setahun yang lalu karena kecelakaan. Aku anak tunggal, sementara saudara-saudara orangtuaku jauh di Bandung. Mereka memang selalu menanyakan keadaanku, tapi aku tidak yakin mereka tulus melakukannya. Aku selalu merasa sendirian sejak saat itu, Rin. Aku marah dengan keadaan. Aku marah dengan Tuhan. Aku merasa Dia tidak adil,”  aku mulai menangis. Arini terdiam. Nampaknya kaget mendengar cerocosanku.

“Kamu salah kalau iri sama aku, Dafa. Aku tidak seperti yang kamu bayangkan.”

Aku kaget mendengarnya. Seketika tangisku terhenti.

“Walaupun orangtuamu sudah tiada, tapi kamu pernah bersama mereka, Fa. Kamu mengenal orangtua kandungmu. Sementara aku, aku tidak tahu orangtua kandungku, Fa… “

“Maksudmu?”

“Aku anak adopsi, Fa. Aku ditemukan di depan pintu sebuah panti asuhan ketika aku bayi. Panti asuhan yang sama dengan yang tadi sore kita buka bersama mereka. Mama dan Papa tidak bisa memiliki anak karena kandungan Mama harus diangkat akibat keguguran. Sebelumnya mereka memang sudah sering ke panti asuhan itu, dan ketika mereka tahu tentang aku, mereka mengadopsiku,” aku terkejut dan menatap Arini untuk melihat apakah dia sedang bercanda, tapi dia terlihat sangat serius. Ekspresinya sedih, tapi dia terlihat sangat tegar.

“Orangtua kandungku bahkan tidak menginginkanku. Aku tidak pernah tahu apa salahku sehingga aku dibuang,”  Arini melanjutkan.

“Pada saat aku mulai kuliah, Mama dan Papa memutuskan untuk memberitahukan kebenaran kepadaku. Aku awalnya marah. Aku tidak terima. Aku marah sama orangtua kandungku, kenapa meninggalkanku. Aku marah sama Tuhan… Aku marah pada..semuanya… “

“Akan tetapi, kemudian aku sadar, Fa. Aku beruntung dibandingkan anak-anak lainnya di panti asuhan itu. Aku diadopsi oleh orangtua yang sangat menyayangiku. Orangtua yang menerimaku sebagai anak mereka, apa adanya. Lambat laun kemarahanku mereda, Fa.. dan berganti dengan rasa syukur.”

Arini memandangku yang masih terdiam. “Fa, aku memang tidak mungkin bisa sepenuhnya mengerti perasaanmu yang kehilangan orangtuamu secara mendadak seperti itu. Akan tetapi, cobalah untuk membuka hatimu, Fa. Yakinlah, Allah tidak mungkin menguji hamba-Nya melebihi kemampuannya. Aku yakin keluargamu di Bandung menyayangimu dan peduli padamu walaupun kalian terpisah jarak. Yang kamu perlukan hanya percaya kepada mereka, membuka dirimu untuk menerima kasih sayang mereka.”

Melihatku masih terdiam, Arini melanjutkan “Kamu tidak pernah sendirian, Fa. Kamu punya keluargamu di Bandung, kamu punya teman-temanmu dan yang pasti kamu punya Dia, Allah yang selalu mengurus kita, bahkan sejak sebelum kita diciptakan. Dia tidak pernah membiarkan kita sendiri, Fa.”

Aku terhenyak mendengar perkataan Arini. Kemudian tanpa sadar, aku tidak bisa mengendalikan diriku dan mulai menangis. Arini hanya memelukku karena dia tahu hanya itu yang kuperlukan, bukan lagi kata-kata.

Perasaan hangat itu datang lagi. Perasaan tenang yang selama ini hilang telah kembali. Aku terlalu lama mengasihani diri sendiri dan lupa bahwa masih banyak nikmat-Nya yang lain yang patut kusyukuri. Terim kasih, Tuhan, telah mengingatkanku.

Total kata : 999

Untuk diikutkan pada “AttarAndHisMind First Giveaway”
Tema : TAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK SEBUAH HAL BAIK

Please feel free to give comment ^__^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s