[Prompt #73] Pelangi dan Bidadari

Pelangi dan Bidadari
Gambar diambil dari sini

 

Hujan baru saja berhenti membasahi bumi.  Awan kelabu perlahan berarak pergi, digantikan oleh awan-awan putih. Langit biru cemerlang. Mentari masih mengintip malu-malu seolah belum siap memanaskan bumi kembali. Semburat pelangi tampak menghiasi langit.

Ane, cucuku yang berumur 5 tahun, berteriak kegirangan ketika aku mengizinkannya bermain di halaman. Mungkin dia sudah bosan berada di rumah selama hujan turun.  Aku duduk di beranda, menikmati siang yang cukup sejuk, sambil mengawasi Ane bermain.

Kulihat Ane memandang pelangi dengan pandangan takjub. Mulutnya nampak komat-kamit seperti mengatakan sesuatu. Dengan rasa penasaran, aku berjalan menghampirinya. Ketika sudah cukup dekat, lamat-lamat, kudengar apa yang Ane katakan:

“Hei Pelangi, mau ke manakah siang begini?
Mengapa kau tak tanya kabarku hari ini?
Apakah aku sebegitu tak menarik untukmu?
Meski hanya untuk sebuah sapamu.
Jangan keburu pergi, temani dulu aku di sini.
Aku ingin lihat ibuku menurunimu sebagai bidadari.”

Aku terhenyak mendengar apa yang dia katakan.

“Ane….” aku memanggilnya.

“Nenek!” Dia nampak terkejut melihatku berada di belakangnya. “Kok Nenek ke sini? Di sini kan licin, Nek. Nanti Nenek terpeleset,” ujarnya.

“Tidak apa-apa, Sayang. Nenek cuma penasaran, kamu bicara dengan siapa?”

“Dengan pelangi, Nek.”

“Kenapa kamu berbicara dengan pelangi, Sayang?”

“Karena aku ingin bertemu Ibu. Sekali saja.”  Kudengar nada sedih dalam perkataannya. Aku terdiam, tidak tahu harus menjawab apa atas permintaan cucuku ini.

“Ane tahu kok, Nek, kalau Ibu sudah di Surga. Tapi, kata Pak Ustad semua ibu yang berada di Surga, akan menjadi bidadari.”

“Lantas, kenapa kamu berbicara dengan pelangi, Sayang?”

“Yaah, kata Pak Ustad, Surga itu indah. Pelangi kan juga indah, Nek. Mungkin saja pelangi berasal dari Surga. Ane minta ke pelangi supaya jangan pergi dulu. Mungkin, Ibu mau turun menemui Ane sekali sajaaa…”  Dia berkata sambil menatapku.

Tatapan polosnya membuat aku tidak sanggup berkata apapun. Kupandangi cucu kesayanganku ini. Malaikat kecil yang hadir akibat kejadian tragis yang menimpa putriku. Kesedihan pun membuncah di dadaku.

Ah, Sayang. Ibumu belum ada di surga. Bagaimana dia akan menemuimu sebagai bidadari? Desahku.

“Yaaah, pelanginya sudah pergi,” ujar Ane. Dia tampak kecewa melihat pelangi berangsur-angsur menghilang. “Ane tidak bisa bertemu Ibu lagi hari ini.”

Aku memeluk cucu kesayanganku ini. “Ane, pelanginya harus pulang. Nanti jika hujan, dia akan datang lagi. Mungkin saat itu, Ibumu akan turun menemuimu, Sayang. Sekarang, lebih baik kamu bermain lagi di dalam. Halamannya masih becek. Nanti kamu malah terpeleset.”

“Iya, Nek. Kakek juga tadi berjanji akan ngajarin Ane bikin burung-burung kecil dari kertas warna-warni,” ujarnya dengan gembira. Aku melepaskan pelukanku setelah mengecup keningnya. Dia berlari ke arah rumah sambil memanggil-manggil kakeknya.

Maafkan kami, Sayang. Kami tidak bermaksud membohongimu, tapi kami tidak tahu bagaimana caranya mengatakan kebenaran padamu. Suatu saat nanti,  pada saat yang tepat, pasti akan kami katakan yang sebenarnya. Sekarang, kau belum akan mengerti mengapa Ibumu harus berada di rumah sakit jiwa. Kau belum akan bisa mengerti apa arti diperkosa.

Total kata : 459 (tidak termasuk judul, puisi, keterangan gambar, dan catatan kaki).

Tulisan ini diikutkan dalam Monday Flash Fiction Prompt #73 : Pelangi.
Terinspirasi dari puisi Mbak Carolina Ratri.

 

7 thoughts on “[Prompt #73] Pelangi dan Bidadari

Please feel free to give comment ^__^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s