#FFRabu – Coklat Keemasan

Goreng
Gambar dari sini

Aku menggoreng dengan berhati-hati. Warnanya harus coklat keemasan. Majikanku sangat cerewet tentang hal ini. Acap kali aku dicacinya hanya karena hasil gorengan tidak sesuai keinginannya.

“Nem! Kamu buta! Ini gosong! Bukan coklat keemasan!” Cacinya di suatu waktu.

“Pucat gini kamu bilang coklat keemasan?! Bisa kerja gak kamu, Nem!” Kecamnya di lain waktu.

Panas hatiku mendengar caciannya itu.

Kali ini, akan kusajikan hidangan favorit majikanku ini dengan sempurna. Kupastikan warna dan penyajiannya tanpa cela.

“Ini lidah goreng tepungnya,Nya,” ujarku kepada majikanku yang telah berada di meja makan.

Majikanku menggumam tak jelas. Wajahnya pucat pasi. Darah tampak masih menetes keluar dari mulutnya.

 

Total kata : 100

Untuk ikutan berpartisipasi dalam FF Rabu di twitter @MondayFF
Tema : Emas

Advertisements

[FF250Kata] Obat Terbaru

Conan dan Ai
Gambar dari sini

“Ai, kata Profesor, ada obat penawar terbaru APTX 4869, ya?” ujar Conan ketika dia mengunjungi rumah Profesor Agasa sore itu.

“Kenapa?” jawab Ai, tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dia baca.

“Aku bersedia untuk mencobanya,” ujar Conan penuh harap.

“Belum bisa.”

“Kalau begitu, aku minta obat penawar yang kuminum sewaktu di Inggris.”

“Tidak ada.”
“Oh, ayolah, Ai. Aku hanya perlu sebutir saja.”

“Memangnya untuk apa sih?” tanya Ai dengan jengkel.

Conan terdiam. Wajahnya merona. “Hari ini Ran berulang tahun,” jawabnya, dengan suara lirih.

“Lantas?”

“Aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya secara langsung. Untuk sekali ini, aku ingin merayakannya secara spesial.”

“Sekali aku mengizinkanmu menggunakan obatku untuk kepentingan seperti itu, kamu akan memintanya lagi dan lagi. Kamu tahu betapa berbahayanya hal itu, kan?!” tukas Ai.

“Sekali ini saja, Ai.”

“Tidak!”

“Ai, kumohon …,” ujar Conan dengan nada memelas.

Merasa terganggu, Ai mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dia baca.

“Ayolah, Ai …,” ujar Conan, sambil nyengir.

Tak ingin diganggu Conan lebih lama, Ai mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya. Diambilnya sebutir kapsul berwarna merah muda dari dalam kotak itu.

“Aku tidak menanggung risikonya lho! Dan, hanya sekali ini!” ujar Ai, sambil memberikan kapsul tersebut kepada Conan.

“OK! Makasih, Ai,” ujar Conan sambil bergegas ke kamar mandi. Ai hanya tersenyum tipis.

Cukup lama suasana kembali hening. Tiba-tiba, terdengar suara Profesor Agasa dari arah kamar mandi, “Shinichi, kenapa kamu tidur di sini?! Ai! Kamu memberinya obat tidur terbarumu?”

“Iya, Profesor! Salahnya menggangguku membaca! Aku sudah bilang aku tidak punya obat yang dia minta,” jawab Ai.

Sebuah postingan yang sangat terlambat. But better late than never kan ya? 😀

IMG-20150122-WA0007

Teruntuk Monday Flash Fiction

Cie cie MFF yang lagi ulang tahun ke-2 😀

Setelah kulihat-lihat isi blogku, ternyata aku mengenalmu ketika kamu masih berusia beberapa bulan. Prompt pertama yang kuikuti adalah Prompt #30 Sang Mantan. Entah kenapa, sampai saat ini, tulisan di prompt itu termasuk salah satu tulisan yang mostly viewed. Banyak yang tidak bisa move on ternyata ya…. 😀

Awal-awal berteman denganmu, aku sempat minder. Banyak orang-orang keren yang berada di sekitarmu. Tulisan-tulisan mereka bagus.  Aku sempat menjauh, selain karena itu, juga karena ada hal pribadi lainnya. Jadinya, aku melewatkan ulang tahunmu yang pertama dan juga keseruan MFF Idol 1. Maafkan aku ya…. 😦

Continue reading

Sekali Lagi

Kriiiing…

Suara dering telepon dari ruang tengah membangunkanku. Kulirik jam dinding. Siapa menelepon jam tiga pagi?

Kubiarkan saja telepon itu berdering. Nanti pasti ada yang mengangkat. Lagipula aku masih jengkel dengan kejadian semalam.

Beberapa menit berlalu dan telepon itu masih saja berdering.

“Ayah dan Ibu ke mana sih?” omelku sambil beranjak dari tempat tidur untuk mengangkat telepon.

“Halo …,”

“Dafa? Ini Ayah!”

“Ayah?! Ayah di mana?!”

“Ayah di rumah sakit, Nak. Ibu ….” jawab ayah menggantung.

“Lho! Kapan berangkatnya?! Ibu kenapa, Yah?!” cecarku.

“Tadi sekitar jam 1, Ibu mendadak sesak napas. Ayah sangat khawatir dan hanya terpikir membawa Ibu segera ke rumah sakit. Tak sempat membangunkanmu.”

“Kondisi Ibu sekarang bagaimana, Yah?”

Hening.

“Yah, Ibu gimana? Sudah membaik, kan?”

“Ibu … Ibu tidak tertolong, Nak.”

Hatiku mencelos. Ini tidak mungkin!

Ingatanku melayang pada kejadian semalam. Aku bertengkar hebat dengan ibu karena tidak diizinkan datang ke pesta ulang tahun Riska yang ke-17. Alasannya hanya karena diadakan di sebuah klub malam. Kolot sekali!

Aku tahu ketidak hadiranku nanti pasti akan menjadi bahan ejekan di sekolah. Membuatku sangat jengkel kepada Ibu.

“Aku benci Ibu! Aku tidak ingin melihat Ibu lagi!” ujarku saat itu.

Penyesalan memenuhi dadaku. Aku pun terisak.

Continue reading

[FF250Kata] Tetangga kok Gitu ….

sadf
Gambarnya dari sini

“Pa, kita jadi ganti mobil kan ya?”

Kami sedang bersantai di teras rumah setelah makan malam. Anak-anak sedang menonton televisi di ruang tengah.

“Mobil kita masih oke kok, Ma. Gak usah ganti dulu, lah …”

“Mobil kita kan sudah lama, Pa …. Bu Broto ganti mobil keluaran terbaru kemarin.”

“Astaga, Ma! Karena Bu Broto lagi?!” Terdengar nada jengkel dari perkataan suamiku.

“Ya … soalnya Pak Broto perhatian dengan istrinya. Apa mau istrinya selalu diturutin.”

Suamiku menghela napas.  “Kalau kita memang perlu ya gak apa-apa, Ma. Bulan lalu Mama minta satu set alat masak seperti punya Bu Broto, Papa turutin karena memang Mama hobi masak. Tapi kan gak semuanya, Ma ….”

Susah emang ngomong sama laki-laki. Panas hatiku mendengar tetangga depan rumah itu selalu sesumbar, Pa …, aku membatin.

“Om Broto ada di televisi!” Tiba-tiba Aryo berteriak dari dalam rumah.

“Waduh, Bu Broto pasti sesumbar lagi tentang ini,” ujarku. Gegas memasuki rumah.

Di layar televisi aku melihat tayangan sekilas berita tentang penggerebekan sebuah kamar hotel oleh KPK.  Seorang anggota dewan berinisial BC tertangkap tangan menerima suap. Bukti berupa uang tunai ditemukan di dalam kamar hotel.

“Mana Om Broto-nya, Yo?  Breaking News gini,” aku bertanya.

“Tadi Om Broto ditemukan sama cewek cantik, Ma di kamar hotel itu. Sekarang Om Brotonya sudah masuk ke mobil polisi itu,” jawab Aryo.

Deg! Jadi ternyata ….

“Ma, kalau  yang ini Papa sih mau.“

“Mau apa, Pa?” aku bingung.

“Mau kalau Mama nyuruh Papa pergi sama cewek cantik ke hotel seperti Pak Broto,” ujar suamiku sambil mengedipkan mata.

[EF#2] Diego’s Wildest Dream

“Mommy, when I grow up, I want to join Navy.” 

Out of the blue, my son said that to me when we are watching television. 

“Why?” I ask. 

“I want to help people. Like those people who evacuate the victims of the airplane crashed. They are doing their best to help people who even they don’t know. Neither their relatives nor their friends.”

I’m speechless.

He continues to talk. “I will study hard. I will do regular exercise so I can be strong and have good stamina. I will learn to swim and dive.”

“I will make you proud of me, Mom,” he said and looks at me with his beautiful brown eyes.

“As long as you are becoming good and responsible man, you always be my pride, Diego.” I finally able to say some words.

“Now, it’s time to sleep. You need to rest.” I said.

He nodded and prepared to go to sleep. I turn off the television; give him kiss at his forehead.

I wait till he sleep and start to cry. I don’t know how Diego will be able to reach his dream. I don’t think he fully aware what really happened to him. Everything had changed.

I don’t know whether the decision took by me and my husband was the right one. We only know we don’t want to lose our tenth old son.

The doctor had amputated his left leg due to bad injury from car accident. An accident caused by a drunken driver. 

Posted from WordPress for Android

[FF250Kata] Memori yang Hilang

CF1F18B9DC858D4EA412F3BB8F1B0
Sumber Gambar

Kulihat sepasang manusia di ruangan ini. Aku berada begitu dekat dengan mereka, tapi sepertinya mereka tak menyadari keberadaanku. Otakku berteriak menyuruhku melarikan diri, tapi kakiku melawan. Mereka geming.

Si lelaki rebeh di kursi. Darah bercucuran dari kepalanya. Sebuah cobek batu tergeletak di samping kursi, berlumuran darah. Dia bergumam, lirih.

“Jangan mengeluh! Aku hanya membalas sedikit dari yang kau lakukan padaku selama ini!” ujar si wanita., dingin.

“Kau acap kali mebedalku kala kau marah. Pun ketika aku hamil. Kadang menggunakan ikat pinggang atau hanya tangan kosong,” ujar lanjutnya. Wajahnya merah menahan amarah.

“Tak cukup itu, kau pun selingkuh dan bermaksud meninggalkanku! Kau pikir aku apa?! Hah?!!”

Sambil bermonolog, wanita itu mendekati si lelaki. Ia menggenggam pisau yang berkilat tajam.. Si lelaki tampak hendak menghindar, tapi tak kuasa. Wajahnya memucat.

Continue reading

#FFRabu – Tentang Pengagum Rahasia

Danbo
Source of image

Sudah lama aku berada di kantor ini. Terkadang aku bosan dengan rutinitasnya. Tapi, hari-hariku menjadi berwarna sejak lelaki itu bekerja di sini.

Aku menyukainya. Lelaki dengan wajah yang selalu serius. Mungkin disebabkan pekerjaannya di bagian keuangan.

Untuk menarik perhatiannya, aku kerap mengeraskan suaraku. Dia akan melirikku. Hatiku pun kan berbunga-bunga.

Pagi ini, dia datang dengan ekspresi yang berbeda. Lebih ceria.

“Selamat untuk pernikahanmu, Bas.” Kudengar seseorang berkata kepadanya.

Hatiku patah seketika. Semangat hidupku lenyap. Aku berdentang tuk terakhir kalinya sebelum perlahan kumatikan seluruh sistem di tubuhku.

“Eh, kenapa tiba-tiba jam ding dong ini mati?” Sempat kudengar seseorang berkata, sambil menunjukku.

Total kata : 100

[FF250Kata] Kejutan tuk Belahan Jiwa

anniversary
Source of the image

“Pesanku gimana? Beres, ya? Jangan lupa sampaikan ke karyawanmu!” Suamiku berbicara melalui telepon dengan Adam, temannya yang juga pemilik restoran tempat kami berada saat ini.

Hari ini ulang tahun pertama pernikahan kami. Kami merayakannya dengan makan malam di tempat pertama kali kami bertemu. Hidangan penutup baru saja disajikan.

“Kamu pesan apa ke Adam, Mas?” tanyaku ketika suamiku selesai menelepon.

“Rahasia,” ujarnya sambil mengedipkan mata.

“Ooh … gitu ya … Mulai main rahasia-rahasiaan sekarang,” ujarku, pura-pura ngambek. Suamiku hanya tertawa kecil.

“Ngomong-ngomong tentang rahasia, aku salut lho dengan Pak Broto.”

“Kenapa memangnya, Mas?”

“Dia telah menikah 15 tahun tapi masih suka memberikan kejutan untuk istrinya. Kemarin, dia mengajakku menemaninya ke toko perhiasan langganan istrinya. Rupanya dia telah memesan satu set perhiasan khusus untuk kado istrinya yang berulang tahun hari ini.”

“Wah, pasti bagus ya, Mas.”

“Bagus sih …. Tapi aku pribadi tidak terlalu suka. Terlalu ramai. Seharusnya kemarin kutunjukkan padamu. Pak Broto menitipkannya padaku karena setelah dari sana dia ada pertemuan dengan klien. Dia khawatir teledor meletakannya.”

Deg!  Continue reading